Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Penipuan
Tersangka Kasus Indosurya Tak Ditahan, LQ Indonesia Lawfirm: Polri 'Tumpul Keatas, Tajam Kebawah'
2021-02-25 20:29:12

Tuntutan LQ Indonesia Lawfirm kepada Presiden RI dan Kapolri yang disampaikan saat unjuk rasa.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dianggap tumpul dalam penindakkan hukum dan seperti 'macan ompong' terhadap pelaku kriminal kerah putih. Hal itu dilontarkan Advokat LQ Indonesia Lawfirm, Alvin Lim sebagai bentuk kekecewaan terhadap proses penegakkan hukum kasus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya senilai Rp14 triliun yang ditangani Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.

Alvin menilai proses penegakkan hukum kasus KSP Indosurya yang ditangani oleh Bareskrim Polri dituding dilakukan setengah hati. Terbukti, terhadap tersangka kasus tersebut belum dilakukan penahanan, padahal sesuai pasal yang disangkakan, tersangka Henry Surya diancam dengan hukuman penjara 20 tahun.

"Terlihat penegakan hukum dilakukan setengah-setengah dalam hal ini Henry Surya yang sudah di jadikan tersangka di bulan Mei 2020, namun tahun berganti ke 2021 hingga hari ini, tersangka tidak dilakukan penahanan dan berkas perkara tidak di limpahkan ke Penuntutan (kejaksaan)," ujar Alvin, di Jakarta, Kamis (25/2).

"Yang dilihat (saat ini) janji Kapolri bahwa Hukum akan Tajam keatas, tidak terlihat," cetusnya.

Lanjut Alvin menuturkan, saat masa jabatan Listyo Sigit Prabowo selaku Kabareskrim, Mabes Polri menetapkan Henry Surya sebagai tersangka, namun langkah hukum dilakukan setengah jalan.

"Itu yang disebut penegakan hukum Tumpul Ke Atas. Aparat Polri tidak tajam kepada golongan kelas atas yang merugikan kurang lebih 5.000 masyarakat dan 14 triliun rupiah kerugian," tambahnya.

Bukan hanya tersangka Henry Surya, sambung Alvin, semua tersangka kasus Indosurya, June Indria dan Suwito Ayub sepertinya diduga kuat masih bernafas lega belum ditahan dan berkas belum dilimpah ke Kejaksaan karena pertanyaan pelapor tentang status penahanan mereka tidak dijawab penyidik dan atasan penyidik yang menangani perkara.

"Malah pengurus Koperasi Indosurya, Sonia Agustina dengan gagahnya berceloteh di media menunjukkan giginya bahwa Indosurya seolah-olah tidak ada masalah dan baik-baik saja," tukas Alvin.

Anehnya lagi, terang Alvin, pelapor dan korban Indosurya yang menanyakan hal ini kepada penyidik dan atasan penyidik di Dittipideksus tidak dijawab sama sekali oleh Polri.

"Jangankan "Transparansi", pelayanan kepada para pelapor dan korban saja mengenai status Tersangka dan status penahanan dalam LP yang diadukan saja tidak dijelaskan. Ketika kami bertanya kemana aliran dana uang Rp14 Triliun, tidak di jawab pula oleh Penyidik dan Atasan penyidik di Mabes Polri yang menangani kasus ini," beber Alvin.

Selain itu, ia pun mengajak masyarakat dan Pemerintah telisik kasus ini, dari aksi Polri siapakah pemimpin Polri sesungguhnya?.

"Karena ketika Presiden Jokowi teriak-teriak bilang jangan gigit yang benar tapi gigit yang salah, justru kenyataannya di lapangan adalah kebalikannya," ujarnya.

Seperti diberitakan, lawyer S, kuasa hukum korban Indosurya malah dijadikan tersangka oleh oknum Polri dan kasus sudah di limpahkan ke Kejaksaan secepat kilat tahun lalu yang diduga atas laporan lawyer "Suruhan" Indosurya sebagai pelapor.

"Kurang jelas apalagi bukti "hukum itu tumpul keatas," tandas Alvin.(bh/amp)


 
Berita Terkait Penipuan
 
Helene Sienca Ternyata Pernah Ditipu, Beli Tas Online Malah di PHP
 
Siber Polda Metro Ungkap Penipuan Berkedok Lowongan Kerja di BNI
 
Kasus Dugaan Penipuan Rp 1 Miliar, Pakar Hukum: Jika Tidak Ada Kejelasan Harus Dipertanyakan
 
Dua Terdakwa Kasus Penipuan Dituntut Jaksa 18 Bulan Penjara
 
2 Pelaku Penipuan Berkedok Undian Berhadiah Melalui SMS Dibekuk
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
AJI Desak Kepolisian Usut Tuntas Kekerasan Terhadap Jurnalis Nurhadi
Helene Sienca Ternyata Pernah Ditipu, Beli Tas Online Malah di PHP
Azis Syamsuddin: 17 Produk Dibuat di Dalam Negeri, APBN Bisa Hemat Rp225 Triliun
Vaksin Nusantara Sangat Diminati
Rudy Kurniawan, Pemalsu Wine Mahal yang Heboh di AS Dideportasi ke Indonesia
KontraS Harap PKS Bisa Lanjutkan Aspirasi Korban HAM Berat Masa Lalu
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Aplikasi SINAR Resmi Diluncurkan, Polri: Pembuatan dan Perpanjangan SIM Cukup Lewat Online
Beda dengan Kapolri, Pengamat Terorisme Sebut Teroris ZA Bukan 'Lone Wolf'
Habib Salim Segaf Aljufri: Tugas Parpol Melakukan Pendidikan Politik Etika
Bocor Lagi, 533 Juta Nomor Ponsel dan Informasi Data Pengguna Facebook Dicuri
Polri-Bea Cukai Gagalkan Peredaran 42 Kg Sabu dan 85 Ribu Butir Ekstasi Jaringan Malaysia-Batam-Medan
Polri: Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar Ada 2 Orang dan Menggunakan Motor
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]