Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

    
 
Papua
Soal Ruas Jalan Papua, Natalius Pigai: Janganlah Diam.. Saya Tunggu Respos Istana, Bukan Orang Politik dan TimSes!
2018-12-12 15:30:40

Natalius Pigai, Tokoh Papua dan aktivis senior pada bidang HAM di Indonesia.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Tokoh Papua yang juga dikenal sebagai pegiat kemanusiaan, Natalius Pigai menantang pemerintah Jokowi untuk membuktikan, bahwa memang baru ruas jalan Wamena-Nduga saja yang baru satu-satunya dibangun selama empat tahun belakangan ini oleh pemerintahan Jokowi. Sementara di Papua tersebut ada total sebanyak 9 ruas jalan, tegas Pigai.

"Tim sukses Jokowi tidak usah mempolitisasi dengan menuduh saya penyebar hoax soal jalan di Papua karena saya bukan ahli politik dan penyebab hoax," tegas Pigai, dalam keterangannya kepada redaksi, Rabu (12/12).

Justru kata dia, jika pemerintah Jokowi punya bukti silakan disampaikan ke publik ketimbang terus menuduhnya berbohong.

"Sederhana kok buktikan saja oleh Istana dan Kementerian PUPR dengan tunjukkan lagi satu ruas jalan baru yang dibangun oleh Jokowi selain jalan Wamena-Nduga sejauh 231 kilometer," tantangnya.

Ia sangat menanti respon dari pemerintah Jokowi terkait proyek Trans Papua itu, bukan malah mengekspos data soal peningkatan, pengaspalan dan pelebaran atau perluasan yang dilakukan secara rutin dari zaman rezim Soeharto hingga sekarang melalui Anggaran Tugas Pembantuan (medebiwind) Balai atau UPTP di Papua dan Papua Barat.

"Sudah hampir satu minggu saya menunggu respon hanya untuk menyebut satu ruas jalan baru saja. Supaya rakyat akan tahu, siapa penyebar hoax," tegas mantan komisioner Komnas HAM ini.

Padahal, lanjut Pigai, kritikannya baru satu ini tentang ruas jalan. "Bagaimana kalau saya kritik soal anggaran yang dipakai, apakah APBN atau dari Beban Pemda APBD. Belum lagi material yang diduga didatangkan dari luar Papua," bebernya.

"Ingat batu dan pasir saja diduga dari luar Papua. Ironi Papua seperti pulau delta," imbuhnya.

Sementara, sebelumnya Natalius Pigai buka bukaan di TVOne terkait masalah pembangunan Infrastruktur jalan di Papua. Lihat video Youtube Klik disini.(dbs/wid/rmol/bh/mnd)

Share : |

 
Berita Terkait Papua
OPM Mendeklarasikan Perang terhadap Pemerintah RI
Koordinator JAKI Menduga James Riyadi Berperan pada Kolonisasi Papua
Soal Ruas Jalan Papua, Natalius Pigai: Janganlah Diam.. Saya Tunggu Respos Istana, Bukan Orang Politik dan TimSes!
Ketum PPAD Kiki Syahnakri Sebut Aksi Penembakan di Nduga Papua Melebihi Terorisme
Pasukan Gabungan TNI-Polri Evakuasi 16 Jenazah Korban Penembakan KKB di Nduga Papua
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Labirin Maskapai Penerbangan Indonesia
Harga Tiket Pesawat Dikeluhkan Mahal, Menhub: Itu Bukan Urusan Saya
Hong Kong: Aksi Ribuan Massa Tetap Digelar Meski RUU Ekstradisi Ditangguhkan
Diterpa kegaduhan, Ketua PD Desak KLB: Demi Harkat dan Martabat SBY!
Pertarungan 'Moral' Di Mahkamah Konstitusi
97 Penipuan Berkedok KPK, Masyarakat Diminta Waspada
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Wakil Ketua DPR: Kredibilitas KPU Hancur Di Sidang MK
Respon KontraS atas Siaran Pers Polri Terkait Peristiwa 21-22 Mei 2019
Tim Hukum Prabowo-Sandi Mempermasalahkan Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye Paslon 01
Bareskrim Polri Gagalkan Penyelundupan 37 Kg Sabu Asal Malaysia
Arief Poyuono: Paslon 01 Mesti Didiskualifikasi, KPU Enggak Paham BUMN Sih..
Sambangi MK, Tim Kuasa Hukum Prabowo-Sandi Bawa Bukti yang Menghebohkan
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]