Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Pemilu
Seruan Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia, Habib Lutfi: Jaga Persatuan NKRI!
2019-04-26 11:51:00

JAKARTA, Berita HUKUM - Forum Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia (FP2I) melaksanakan Halaqah Kebangsaan dalam rangka menyikapi situasi politik mutakhir pasca Pemilu 2019. Acara tersebut diadakan bersamaan dengan perayaan Hari Lahir Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta yang ke-34 di Kedoya, Kebon Jeruk, Kamis malam (25/4).

Dalam acara itu, para ulama dan kiai yang hadir memandang bahwa kondisi saat ini memerlukan upaya serius untuk dapat kembali memantapkan persatuan bangsa. Sebab menurut mereka, berbagai kejadian sebelum, pada saat, dan terutama setelah pemungutan suara sedikit banyak telah menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.

Karenanya, mereka menyampaikan beberapa seruan penting. Antara lain, pertama, meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan hasutan apapun untuk memecah belah umat.

"Meminta seluruh masyarakat agar mengakhiri perbedaan pandangan politik dan kembali bersatu untuk keutuhan bangsa," kata Saiful Islam al-Payage saat membacakan point kedua diikuti seluruh peserta.

Ketiga, lanjutnya, meminta kepada seluruh pengasuh pondok pesantren se-Indonesia agar pro-aktif memersatukan umat dan tokohnya yang terpecah belah pasca Pemilu.

"Menghimbau kepada aparat keamanan untuk jangan ragu menindak tegas siapa pun yang coba mengganggu ketertiban keamanan," tandasnya.

Sementara itu, Ulama karismatik asal Pekalongan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang hadir mengisi ceramah di tempat itu, juga mengulas arti penting persatuan. Dalam ceramahnya, ia berpesan agar umat tidak mudah dipecah belah.

"Jangan mudah dipengaruhi informasi yang tidak benar, jangan mau dipecah belah," ungkapnya.

Ia pun meminta umat Islam belajar kepada ulama dan tokoh terdahulu. Menurutnya, mereka berjuang dengan gigih mengorbankan jiwa dan raga demi keutuhan bangsa dan negara.

Ulama terdahulu, katanya, juga paham batasan sehingga tidak merasa diri paling benar dan menganggap orang lain salah. Termasuk, terhadap yang berbeda keyakinan sekalipun.
"Tugas kita sekarang, mari kita sama-sama jaga dan rawat NKRI ini dengan meneladani ulama terdahulu kita," tegasnya.(bh/as)

Share : |

 
Berita Terkait Pemilu
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kepala Balai Karantina Pertanian Semarang Akan Tuntut Balik Polda Jateng dan PT Katama Surya Bumi
Sambangi Komnas HAM, LKBHMI Minta Dalang Kerusuhan 21-22 Mei di Ungkap
Amien Rais: Seorang Muslim Tidak Boleh Berpikir Kalah di Dunia, Menang di Akhirat
Mahasiswa Hukum UBK Lakukan Penelitian di PPWI terkait UKW
Pukul Hakim di Persidangan, Tomy Winata Himbau DA Agar Patuh dan Taat Hukum
Pos Indonesia Tak Boleh Ditutup
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Arsip Statis Presiden Soeharto Diserahkan Mbak Tutut ke ANRI
Pertemuan Prabowo - Jokowi, Amien Rais: Jangan Pernah Sangka Prabowo Gadaikan Prinsip!
Kemnaker: Pentingnya Memaknai Perkembangan Revolusi Industri 4.0
PKS: Prabowo Bertemu Jokowi Bukan Berarti Bergabung
KPK Tetapkan Gubernur Kepri Tersangka Dugaan Suap Proyek Reklamasi Pulau
Kubu Prabowo Ajukan Permohonan Kedua Ke MA, Begini Ceritanya
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]