Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
PLTN
Sebelum Mengambil Keputusan Besar, PLTN Dianggap Efisien dan Efektif?
Sunday 24 Mar 2013 03:08:03

Ilustrasi
Oleh: Drs. Panisean Nasoetion, M.Si

AKHIR-akhir ini wacana tentang rencana pengembangan energi nuklir (PLTN) di Indonesia kembali hangat diperbincangkan oleh pemerintah maupun masyarakat.
Hal ini tidak terlepas dari terjadinya krisis energi yang berkepanjangan yang melanda berbagai negara-negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Terlebih disinyalir bahwa cadangan minyak di perut bumi kita menurut Wamen ESDM tinggal 4 milyar barrel atau setara dengan penggunaan 12 tahun lagi ke depan, yang dapat memicu terhadap kelangkaan dan kenaikan harga minyak (BBM), ditambah minimnya upaya2 pemerintah dalam mengembangkan energi alternatif ramah lingkungan seperti energi matahari, air, angin, ombak laut, geothermal, dsb.

Walaupun cadangan batubara Indonesia cukup besar, namun karena sifatnya yang dapat memicu meningkatnya emisi gas rumah kaca penyebab Pemanasan Global/ Global Warming, sehingga dianggap tidak efisien dan efektif. Dalam kondisi yang demikian, penggunaan energi nuklir banyak disebut sebagai pilihan terakhir.

Tidak bisa dipungkiri energi nuklir telah banyak dikembangkan di berbagai negara, karena dianggap memiliki keunggulan dapat menghasilkan tenaga besar dan dalam waktu yang cukup lama.

Walaupun disatu sisi energi nuklir memiliki banyak keunggulan dan dianggap efisien dan efektif, namun disisi lain harus diingat bahwa energi nuklir bukannya tidak mempunyai kelemahan yaitu berupa potensi kemungkinan kebocoran reaktor dan resiko besar yang akan ditimbulkan yang dapat mencemari lingkungan, menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan, bahkan dapat memusnahkan kehidupan.

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana dahsyatnya dampak bom atom Hiroshima yg telah menimbulkan derita berkepanjangan, demikian pula kasus kebocoran reaktor nuklir Chernobyl 1986, Atucha Argentina 2005, Cadarache Perancis 1993, Forsmark Swedia 2006, Vandellos Spanyol 1989, Three Miles Island USA thn 1979, serta yang terakhir adalah tragedi Fukushima Jepang baru-baru ini.

Bila kita amati secara seksama semua kasus2 kebocoran tersebut terjadi di negara2 dimana penguasaan IPTEK nya telah sangat maju, dengan penerapan standar kemananan dan keselamatan serta disiplin yang cukup tinggi, serta dengan kesadaran lingkungan masyarakatnya yang sudah tinggi.

Bagaimana halnya dengan negara kita? Kita tahu bahwa secara geografis negara kita terdiri dari kepulauan dan dilingkari oleh sedikitnya 3 lempeng tektonik aktif Indo Australia, Euarasia, Pasifik, yang selalu bergerak setiap saat yang dapat menimbulkan gempa bumi, demikian pula deretan gunung berapi aktif sepanjang pulau jawa, sumatera, sulawesi, yang merupakan busur aktif yang dapat menggoncang setiap saat, yang merupakan ancaman terbesar bagi keselamatan PLTN.

Dari sisi sosial budaya dan politik, bangsa kita masih memiliki budaya disiplin yang rendah, standar keamanan dan keselamatan belum menjadi perhatian, budaya korupsi prooyek masih tinggi, budaya memelihara masih sangat rendah, kesadaran lingkungan masyarakat juga rendah, penguasaan teknologi nuklir masih kalah dibanding negara maju.

Apakah kesemuanya ini dapat menjamin PLTN tidak akan menimbulkan masalah yang besar dikemudian hari? Hendaknya hal-hal tersebut menjadi bahan pemikiran bagi kita semua secara bijaksana dengan kepala dingin sebelum mengambil suatu keputusan besar yang menyangkut masa depan dan keberlanjutan hidup jutaan umat manusia, sebelum menyesal dikemudian hari.

Penulis adalah Direktur Yayasan Jaringan Hijau Mandiri
panisean@yahoo.com

Share : |

 
Berita Terkait PLTN
Koalisi Masyarakat Tolak PLTN Kaltim
Menko Sofyan Tolak Investasi PLTN Rusia
Aspek Politik Akan Ganjal Fase Dua Pembangunan PLTN
PLTN Non Komersil Solusi Tekan Kepentingan Politik
Sebelum Mengambil Keputusan Besar, PLTN Dianggap Efisien dan Efektif?
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Siap-siap, WhatsApp Ancam Pidanakan Penggunanya
Utang Pemerintah yang Besar akan Menyulitkan Negara Menalangi Utang Swasta Seperti Krisis 97/08
Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T
Labirin Maskapai Penerbangan Indonesia
Harga Tiket Pesawat Dikeluhkan Mahal, Menhub: Itu Bukan Urusan Saya
Hong Kong: Aksi Ribuan Massa Tetap Digelar Meski RUU Ekstradisi Ditangguhkan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T
Wakil Ketua DPR: Kredibilitas KPU Hancur Di Sidang MK
Respon KontraS atas Siaran Pers Polri Terkait Peristiwa 21-22 Mei 2019
Tim Hukum Prabowo-Sandi Mempermasalahkan Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye Paslon 01
Bareskrim Polri Gagalkan Penyelundupan 37 Kg Sabu Asal Malaysia
Arief Poyuono: Paslon 01 Mesti Didiskualifikasi, KPU Enggak Paham BUMN Sih..
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]