Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Virus Corona
Satu Hari 368 Orang Tewas di Italia, Para Dokter Harus Pilih Pasien Mana Dirawat atau Dibiarkan Meninggal Dunia
2020-03-16 19:16:29

Kawasan Italia utara adalah daerah yang paling parah terpapar virus corona.(Foto: Istimewa)
ITALIA, Berita HUKUM - Negara Italia merilis data terbaru korban tewas akibat virus corona yakni 368 orang. Data ini merupakan rekor dalam satu hari kasus kematian dari infeksi Covid-19.

Total virus corona sudah membunuh 1.809 orang dari 24.747 kasus infeksi di Italia sampai hari ini. Angka itu menjadikan Italia sebagai negara tertinggi kedua kasus kematian akibat virus corona selain China, dilansir dari AFP, Senin (16/3).

Para dokter di garis depan pertempuran memerangi virus corona di Italia mengaku harus memilih pasien mana yang mendapat penanganan dan pasien mana yang tidak memperoleh perawatan.

Di tengah peningkatan jumlah pasien virus corona yang mencapai ratusan orang setiap hari, Italia kewalahan menyediakan ranjang rumah sakit bagi pengidap Covid-19- hal yang belum pernah terjadi pada masa damai.

"Jika seseorang berusia 80 dan 95 tahun mengalami kesulitan pernapasan yang parah, kami kemungkinan tidak melanjutkan [penanganan]," kata Dr Christian Salaroli, kepala unit perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Bergamo kepada surat kabar Corriere della Sera.<

"Ini adalah kata-kata yang buruk, namun sayangnya benar. Kami tidak berada dalam posisi untuk melakukan apa yang Anda sebut sebagai mukjizat," tambahnya.

Namun apa yang membuat keputusan ini diperlukan?

Keputusan-keputusan sulit

Virus corona terbukti mematikan, khususnya di Italia. Sebanyak 1.809 orang dari 24.747 kasus infeksi telah meninggal dunia per 16 Maret 2020-sekitar sepertiga dari jumlah kematian yang tercatat di China.

italia, virus coronaHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSebanyak 1.809 orang dari 24.747 kasus infeksi di Italia telah meninggal dunia per 16 Maret 2020.

Populasi di Italia adalah yang tertua kedua di dunia setelah Jepang, menurut data PBB. Itu artinya, sebagian besar penduduk Italia amat berisiko jatuh sakit jika mereka terpapar virus corona.

Awal bulan ini, Italian Society of Anaesthesia, Analgesia, Resuscitation and Intensive Therapy (SIAARTI), merilis rekomendasi etik sebagai arahan bagi para dokter mengenai siapa yang seharusnya ditempatkan pada ranjang perawatan intensif "dalam kondisi-kondisi pengecualian" -artinya siapa yang diprioritaskan ketika tidak ada ranjang untuk menampung semua pasien.

Alih-alih menempatkan pasien berdasarkan siapa yang datang paling awal, lembaga itu memberi anjuran agar para dokter dan perawat berfokus pada pasien-pasien yang punya peluang pulih lebih tinggi setelah perawatan intensif.

"Bukannya SIAARTI mengusulkan agar beberapa pasien dirawat dan lainnya mendapat perawatan terbatas. Sebaliknya, adalah peristiwa darurat yang membatasi para dokter memfokuskan perhatian mereka mengenai kepatutan perawatan pada mereka yang paling mendapat manfaat," sebutnya.

'Tsunami'

Italia memiliki sekitar 5.200 ranjang perawatan intensif. Namun, pada musim dingin, sebagian besar ranjang tersebut telah ditempati pasien-pasien dengan masalah pernapasan.

Wilayah Lombardy dan Veneto di utara hanya punya sekitar 1.800 ranjang di institusi pemerintah dan swasta.

rumah sakit, italiaHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSemua rumah sakit di Italia bagian utara telah mendirikan bagian tambahan untuk menampung ranjang lebih banyak.

Dr Stefano Magnone, yang bekerja di sebuah rumah sakit di Lombardy, mengatakan kepada BBC bahwa daya tampung mereka telah mencapai batas.

"Situasinya semakin buruk hari demi hari, karena kami telah mencapai batas tampung ranjang ICU serta bangsal biasa untuk merawat pasien-pasien positif virus corona," katanya.

"Di provinsi kami, kami telah kehabisan sumber daya, baik manusia maupun teknologi. Jadi kami menunggu ventilator baru, perangkat ventilasi non-invasif baru."

Awal pekan ini, kesaksian dari Dr Daniele Macchini, seorang dokter unit perawatan intensif di Bergamo, menjadi viral di Twitter.

Pada kesaksian tersebut, dia menjelaskan bagaimana timnya "kewalahan oleh tsunami" dan peralatan medis untuk masalah pernapasan, seperti ventilator, menjadi luar biasa berharga "layaknya emas".

"Kasus-kasus berlipat ganda, [kami menerima] 15-20 pasien per hari, semua karena alasan yang sama. Hasil uji swab kini muncul satu demi satu: positif, positif, positif. Tiba-tiba [ruang gawat darurat] ER kolaps," katanya.

"Beberapa kolega kami yang terinfeksi juga punya kerabat yang terinfeksi, dan beberapa kerabat mereka sudah berjuang antara hidup dan mati."

Doctors and nurses at the emergencies department at work at hospital in Pavova, ItalyHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionStaf medis mengaku merasakan tekanan emosional luar biasa.

Dr Salaroli mengatakan kepada surat kabar Corriere bahwa beban emosi staf medis "menghancurkan" dan beberapa dokter di dalam timnya "remuk" oleh pilihan-pilihan yang terpaksa dibuat.

"Bisa terjadi pada dokter kepala begitu pula dengan dokter muda yang baru tiba dan harus memutuskan nasib seorang manusia. Saya ulangi, dalam skala besar," ujarnya.

"Saya melihat sejumlah perawat dengan 30 tahun pengalaman, menangis, orang dengan krisis mental, tiba-tiba gemetar."

'Permohonan Italia ke Eropa'

Berbicara kepada BBC, Menteri Luar Negeri Italia, Luigi Di Maio, meminta sebuah unit Eropa untuk mengoordinasi suplai untuk semua rumah sakit dan klinik di seluruh Eropa.

Dia juga menyuarakan optimisme, dengan mengatakan tidak ada kasus infeksi di 10 kota di kawasan zona merah di Italia utara.

"Italia adalah negara pertama di Eropa yang begitu parah terpapar. Namun, saya harap itu juga berarti Italia adalah yang pertama keluar dari kondisi darurat."(dbs/BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Virus Corona
 
Perkembangan COVID-19 di Jakarta Per 18 September 2020
 
Lebih Dari 3 Pegawai BPN Jaktim di Isolasi ke Wisma Atlet
 
Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa 'Harus Jadi Peringatan Bagi Kita Semua', Kata WHO
 
Kolaborasi Multipihak Mutlak Diperlukan dalam Penanganan Covid-19
 
Polda Metro: 9.374 Pelanggar Terjaring Operasi Yustisi PSBB Ketat, Total Denda Capai Rp 88 Juta
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Aksi Damai Massa 'Minta DPR RI Dengarkan Suara Rakyat Agar Pilkada 2020 Ditunda'
Tanpa Peran Soeharto, Indonesia Jadi Negara Komunis
PKS: Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah Berbahaya dan Tidak Relevan
Ditlantas Polda Metro Adakan Baksos Hari Lantas Bhayangkara ke-65, Puluhan Ton Beras Dibagikan
NU Minta Pilkada Serentak 2020 Ditunda
Ribuan Warga Ketapang Mengamuk, TKA China jadi Bulan-bulanan, Dipukuli dan Kabur ke Hutan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Jansen Sitindaon: Dulu Jadi Jubir Sandiaga, Sekarang Jadi Lawan
Said Didu: Bu Menkeu, Dulu untuk Dampak Krisis Ditolak, Sekarang Jiwasraya 'Dirampok' Kok Malah Dikucurkan 20 T?
Hasil Olah TKP Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri: Ada Unsur Pidana
Sekda DKI Jakarta Saefullah Tutup Usia
Syekh Ali Jaber: Saya Tidak Terima Kalau Pelaku Penusukan Dianggap Gila, Dia Sangat Terlatih
59 Negara Tolak WNI, Refly Harun: Kesalahan Jokowi, Bukan Anies
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]