Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Partai Demokrat
SBY: Politik Identitas Makin Mengemuka
2018-11-14 07:05:35

Lagu Mars Demokrat dikumandangkan sebelum Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka acara Pembekalan Calon Anggota Legislatif (caleg) Partai Demokrat di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (10/11).(Foto: DPP-PD)
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai politik identitas semakin mengemuka setelah Pilkada DKI Jakarta 2017 silam.

Hal itu disampaikan SBY dalam pidato sambutan pembekalan calon anggota legislatif (caleg) Partai Demokrat di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (10/11).

"Sejak berlangsungnya Pilkada Jakarta 2017 lalu saya berani mengatakan bahwa politik kita telah berubah. Yang berubah adalah makin mengemukanya politik identitas, atau politik SARA dan politik yang sangat dipengaruhi oleh ideologi dan paham," kata SBY.

Ia menyadari, identitas sosial dan ideologi tak mungkin dipisahkan dari politik. Namun ia menilai hal itu tak baik jika sudah ekstrem pengaruhnya.

Apa lagi, sambung SBY, Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki riwayat panjang konflik ideologi dan identitas. Konflik tersebut terjadi sejak era kepresidenan Soekarno hingga sekarang.

Karena itu, ia berharap politik identitas dan SARA tidak esktrem pengaruhnya dalam Pemilu 2019.

"Oleh karena itu Partai Demokrat mengajak dan meyerukan kepada saudara-saudara kami para komponen bangsa, juga para elite politik serta pemimpin-pemimpin partai politik untuk sekali lagi bersama-sama mencegah terjadinya politik identitas dan benturan ideologi dan paham," kata dia.

"Jangan sampai menjadi ekstrem, lihat apa yang terjadi di banyak negara di dunia saat ini, bukan hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara lain yang mengalami mala petaka besar karena politik identitas, politik dengan kebencian yang mendalam, benturan ideologi," lanjut SBY.

Adu Gagasan

SBY juga mengimbau kubu pasangan capres dan cawapres, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga untuk lebih mengedepankan adu gagasan dan program yang akan ditawarkan. Menurutnya, adu gagasan terkait kebijakan, program, serta solusi lebih ditunggu rakyat Indonesia.

"Kita berharap kontestasi Pilpres lebih mengedepankan kebijakan dan program serta solusi terhadap persoalan rakyat sekarang ini," kata SBY.

Meskipun Partai Demokrat, tergabung dalam koalisi Indonesia Adil Makmur, SBY menilai kedua kubu belum menitikberatkan kepada program dan kebijakan.

"Mengedepankan apa yang ingin dilakukan oleh beliau-beliau itu, kalau Insya Allah terpilih memimpin Indonesia lima tahun mendatang, apa yang akan dilakukan untuk negara, untuk rakyatnya," ujarnya.

Menurutnya, kedua pasangan sudah harus memaparkan rumusan kebijakannya di bidang ekonomi, bidang kesejahteraan, bidang hukum dan bidang pertahanan ketahanan, atau hubungan internasional. Ketimbang, kedua pasangan calon lebih banyak beradu argumen di luar substantif yang justru membuat masyarakat terbelah.

"Ketimbang tanpa disadari yang mengemuka adalah dieksploitasinya perbedaan identitas, perbedaan ideologi dan perbedaan paham," ucap SBY.(Kompas/Republika/dik/demokrat/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Partai Demokrat
Orasi Kebangsaan AHY di Kampus Al-Zaytun
Pernyataan SBY Soal Pemilu 2019 dan '14 Prioritas Demokrat untuk Rakyat'
Ketum PD SBY: Rakyat Menginginkan Keadilan
Partai Demokrat Serahkan Perusak Bendera dan Baliho di Pekanbaru ke Polisi
SBY: Politik Identitas Makin Mengemuka
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Dompet Dhuafa Benarkan 3 Tim Medis Serta 2 Mobil Diamuk Oknum Polisi
Pemerhati Hukum Siber: Pembatasan Akses Media Sosial Adalah Kebijakan Yang Aneh
Rekam Aksi Beringas Brimob Saat demo, Wartawan CNN Dianiaya
Korban Aksi 21/22 Mei, Anies Baswedan: Enam Orang Meninggal Dunia
FPI: Ada Pihak Ketiga Yang Ingin Mengadu Domba
Untitled Document

  Berita Utama >
   
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Pemerhati Hukum Siber: Pembatasan Akses Media Sosial Adalah Kebijakan Yang Aneh
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Potret Pemilu 2019, LKPI: Ada 72,8 Persen Mengatakan Ada Banyak Kecurangan
Bawaslu Sebut 6,7 Juta Pemilih Tak Dapat C6 dan 17 Ribu TPS Telat Dibuka
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]