Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Teroris
Penembakan Massal di Jerman: 'Kami Takut akan Keselamatan Kami. Di Mana Perlindungan" Kata Aktivis Anti-Rasisme
2020-02-24 09:48:07

Doa bersama seperti yang terlihat di kota Frankfurt ini juga digelar di seluruh Jerman.(Foto: EPA)
JERMAN, Berita HUKUM - Puluhan ribu orang menghadiri doa bersama bagi para korban ekstremis sayap kanan yang melakukan penembakan massal di dua bar shisha di Hanau, Jerman.

Dalam doa bersama yang digelar di Hanau dan Berlin pada Kamis (21/2), orang-orang menyalakan lilin, membawa mawar, berkumpul dalam diam.

Para penyelidik menganggap serangan yang terjadi pada Rabu (20/02) sore sebagai aksi serangan terorisme.

Jaksa Federal Jerman Peter Frank mengatakan tersangka bernama Tobias R, yang berusia 43 tahun, mengunggah materi daring yang menunjukkan "pola pikir yang sangat rasis".

Semua korban memiliki latar belakang imigran, dan beberapa di antara mereka diperkirakan berasal dari Kurdi.

Di sisi lain, pemerintah Jerman dituntut untuk melakukan upaya lebih banyak dalam mengatasi ekstremisme sayap kanan.

Dalam sebuah pernyataan, asosiasi Kurdi di Jerman, Kon-Med, mengatakan bahwa pihaknya "geram" dengan otoritas Jerman karena "tidak secara tegas menentang jaringan sayap kanan dan terorisme sayap kanan".

Sementara itu, asosiasi Muslim di Jerman, KRM, juga menuntut pemerintah Jerman melakukan upaya lebih banyak. KRM menyebut bahwa mereka, berbulan-bulan sebelumnya, sudah meminta "pendirian yang jelas terhadap Islamofobia".

Dalam tanggapannya terhadap serangan itu, Kanselir Angela Merkel berbicara tentang "racun rasisme". Sementara, Presiden Frank-Walter Steinmeier ketika menghadiri salah satu acara peringatan mengatakan Jerman "tidak akan diintimidasi".

Apa yang terjadi dalam serangan itu?

Serangan itu terjadi pada Rabu (19/2) sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Dalam serangan itu, bar shisha Midnight yang berlokasi di pusat kota Hanau menjadi target pertama.

Kemudian, tersangka berkendara ke Kesselstadt yang berjarak 2,5 kilometer dari Hanau, dan menyerang Arena Bar & Cafe.

Bar shisha menjadi tempat orang-orang berkumpul untuk menghisap shisha atau hookah, yang berasal dari Timur Tengah dan Asia, dan kini sudah populer di berbagai belahan dunia.

penembakan massal, ekstrimisme kanan, Jerman, HanauHak atas fotoAFP
Image captionWarga Hanau berdemo menentang rasisme

Penembakan itu memicu perburuan. Polisi mengidentifikasi pria bersenjata itu melalui informasi dari saksi dan kamera pengintai. Pada Kamis pagi, mereka menyerbu rumah tersangka, yang berdekatan dengan lokasi penembakan kedua.

Tersangka dan ibunya yang berusia 72 tahun ditemukan di apartemennya, keduanya ditemukan tewas tertembak. Sebuah senjata ditemukan di sebelah tubuh tersangka.

Kini penyelidikan serangan berfokus pada keterlibatan orang lain yang tahu atau membantu mengorganisir penembakan massal, menurut Jaksa Federal Jerman Peter Frank pada Kamis (20/02). Ia menambahkan bahwa para penyelidik akan mengembangkan penyelidikan pada potensi keterlibatan siapapun, baik di Jerman dan luar negeri.














 






Para saksi merekam situasi setelah penembakan terjadi

Sedikit detail yang dirilis tentang kesembilan orang korban, namun di antara mereka adalah warga Jerman dan warga asing yang berusia antara 21 hingga 44 tahun, ujar Jaksa Federal Jerman Peter Frank.

Seorang warga Bosnia, Bulgaria, dan Rumania meninggal dalam serangan tersebut, menurut pihak berwenang di negara-negara terkait.

Seorang aktivis anti-rasisme keturunan Jerman-Turki, Ali Can, menggugah foto teman dari sepupunya, menyebut bahwa orang tersebut termasuk di antara mereka yang meninggal.

Dalam unggahan Twitter, dia berkata: "Kami tidak bisa menghabiskan malam yang damai, kami takut akan keselamatan kami. Apa yang terjadi di Jerman? Di mana perlindungan?"

Apa yang kita ketahui tentang tersangka?

Tobias R telah mengunggah video dan semacam manifesto di situs pribadinya, ujar jaksa federal.

Dalam dokumen tersebut, dia menulis bahwa orang-orang dari lebih dari 20 negara, termasuk Turki dan Israel, harus "dihancurkan", seperti dilaporkan oleh kantor berita AFP.

Pakar anti-teroris Jerman yang tinggal di London, Peter Neumann mengatakan bahwa isi dokumen itu "beragam, tapi sebagian besar pandangan ekstrem kanan, dengan ideologi yang dibuat dari bagian-bagian yang ditemukan di internet".

Tersangka teridentifikasi bernama Tobias RHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionTersangka teridentifikasi bernama Tobias R

Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Peter Beuth, mengatakan bahwa tersangka sebelumnya tidak diketahui oleh pihak berwenang.

Namun, tabloid Bild melaporkan bahwa dia memiliki izin kepemilikan senjata, dan bahwa amunisi ditemukan di mobilnya.

Undang-undang senjata di Jerman termasuk yang paling ketat di dunia, dan semakin diperketat dalam beberapa tahun terakhir setelah penembakan massal lainnya.

Serangan oleh ekstremis kanan di Jerman

- Oktober 2019: Di Halle, seorang penyerang menewaskan dua orang dan berupaya untuk menyerang sebuah sinagog, serta menyiarkan serangan itu secara online. Dia kemudian mengakui serangan itu bermotif anti-semit

Juni 2019: Walter Lubcke, seorang politisi pro-migran, ditembak di kepala dalam jarak dekat dan ditemukan tewas di kebunnya. Seorang tersangka dengan pandangan sayap kanan mengaku atas pembunuhan tesebut.

Juli 2016: Seorang remaja berusia 18 tahun melakukan penembakan massal dan membunuh sembilan orang di sebuah pusat berbelanjaan di Munich sebelum akhirnya bunuh diri. Pihak berwenang kemudian mengklasifikannnya sebagai serang "bermotif politis", menyebut bahwa remaja tersebut memiliki "pandangan rasis dan sayap kanan yang radikal"


Presentational grey line


Location of the attacks(BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Teroris
 
Penembakan Massal di Jerman: 'Kami Takut akan Keselamatan Kami. Di Mana Perlindungan" Kata Aktivis Anti-Rasisme
 
Fahri Hamzah: Tuduhan ke Din Syamsuddin Biayai Teroris Permainan Orang Sakit
 
Teroris Asal Bekasi Marak, NU dan Polri Gelar Seminar Kebangsaan
 
Kapolri Tito Karnavian sebagai Ahli di Bidang Antiterorisme
 
Serangan Terduga Teroris di Mapolda Riau Menerobos Menggunakan Mobil
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
BNN Bersama Ormas, Aktivis Anti Narkoba Bagikan Paket Sembako: Aksi Peduli Kemanusiaan Wabah Covid-19
Nasir Djamil Minta Manajemen Apartemen Sudirman Mansion Jangan Sewenang-Wenang kepada 6 Pekerjanya
RI Negara Pertama Asia Jual Surat Utang Global Rp 69 T dan Terbesar dalam Sejarah Indonesia
WALHI Layangkan Surat Terbuka Agar DPR RI Mencabut Omnibus Law CILAKA
Ojek Online Minta Jam Operasional dan Lokasi Gerai Toko Tani Kementan Ditambah
DPR Hendaknya Ngerti Penderitaan Rakyat, Bukan Malah Tetap Bahas Omnibus Law Saat Pandemi Covid-19
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Status PSBB Covid-19 DKI Jakarta Mulai Diberlakukan 10 April 2020
Polri Siap Tangani Kejahatan Potensial Selama PSBB
KPK Tegaskan Tolak Pembebasan Koruptor Karena COVID-19
Muhammad Syarifuddin Resmi Jabat Ketua Mahkamah Agung yang ke 14
Surat Terbuka Sohibul Iman Presiden PKS Kepada Presiden RI Joko Widodo
Ditengah Pandemi Covid-19 Peredaran Narkotika 'Gorila' Makin Merajalela, 12 Tersangka Dibekuk Polisi
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]