Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Gaya Hidup    
 
Rolling Stones
Peneliti Temukan Tiga Revolusi Musik dalam 50 Tahun
Thursday 07 May 2015 08:40:40

The Beatles dinilai menjadi salah satu pencetus terjadinya revolusi musik pada era 1960-an dan 1970-an. Jay Z merupakan musisi hip-hop masa kini yang berpengaruh dalam perkembangan genre musik tersebut.(Foto: Istimewa)
LONDON, Berita HUKUM - Sebanyak tiga revolusi telah terjadi di bidang musik, kata sekelompok peneliti yang mengkaji rekam jejak musik pop dunia Barat dari 1960 hingga 2010.

Para peneliti dari Universitas Queen Mary dan Imperial College London meneliti lebih dari 17.000 lagu dari tangga lagu Billboard Hot 100. Dari lagu-lagu itu, mereka memantau berbagai karakteristik musik yang berbeda, termasuk harmoni, perubahan kunci nada, dan warna nada.

Mereka kemudian menganalisa bagaimana perubahan musik terjadi dari waktu ke waktu.
Pada awal 1960-an, mereka menemukan bahwa kunci nada dominant sevenths yang lazim ditemukan dalam music jazz dan blues mulai hilang.

Dan juga pada 1964 dimulai invasi band-band asal Inggris - dari Beatles hingga Rolling Stones – yang memperkenalkan musik rock radikal yang baru.

Para peneliti mengatakan ini adalah revolusi pertama dari tiga revolusi gaya musik.
Teknologi baru, alat synthesizer, dan mesin drum, menjadi faktor utama terjadinya revolusi kedua pada 1983.

Revolusi ketiga terjadi pada 1991, ketika musik rap dan hip-hop mulai dinikmati orang banyak.

“Revolusi ini merupakan yang terbesar. Ini tampak jelas dalam analisa kami, karena kami meneliti harmoni – dan rap dan hip-hop tidak mementingkan harmoni musik. Mereka lebih menekankan gaya ucapan dan ritme. Ini merupakan revolusi nyata, tiba-tiba anda mendengar lagu pop tanpa harmoni,” kata Dr Matthias Mauch, dari Universitas Queen Mary, London.

Para peneliti membantah klaim bahwa semua musik pop mulai terdengar sama.

"Banyak orang mengklaim msuik menjadi semakin buruk, dan kita tidak menemukan itu. Tidak ada tren yang mengindikasi bahwa keseluruhan komposisi musik menjadi kurang beragam,” kata Dr Mauch, merujuk hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Rolling Stones
PT a&e Media: Penerbit Majalah dan Situs Rolling Stone Indonesia, 2005-2017
Rolling Stones akan Rilis Album Baru Tahun ini
Peneliti Temukan Tiga Revolusi Musik dalam 50 Tahun
Nyanyian Mick Jagger untuk L'Wren Scott
Mick Jagger Segera Jadi Kakek Buyut
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
MetroTV Mendapat Teguran Keras dari KPI
Pangeran Philip: Suami Ratu Elizabeth II Terlibat Kecelakaan Lalu Lintas, Mobilnya Terguling
PT Bumigas Energi Pertanyakan Putusan Hasil Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik 2 Anggota BANI
Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar Acara Millennial Road Safety Festival 2019
DPD SPN DKI Jakarta Gelar Deklarasi Pemilu Damai 2019
KPU: Jaga Kepercayaan Publik Lewat Situng
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar Acara Millennial Road Safety Festival 2019
LIPI: Ada 3 Provinsi di Indonesia Rawan Hoaks
Polri Siap Meluncurkan Gebrakan Milenial Road Safety Festival Guna Menekan Angka Kecelakaan
Kaku dan Kurang Menarik, Format Debat Pilpres Berikutnya Harus Dievaluasi
GARBI: Divestasi Freeport, Indonesia Diakali McMoran dan Rio Tinto?
BNPT Adakan Raker dan Penandatanganan Perjanjian Kinerja 2019
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]