Lagu kebangsaan itu diputar sebelum acara debat kelima calon presiden dan wakil presiden digelar, Sabtu malam, (13/4).

Di cafe itu, siaran debat" /> BeritaHUKUM.com - Para 'Unicorn' Ikut Nyanyikan Lagu Kebangsaan dan Pantau Debat Capres

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilpres
Para 'Unicorn' Ikut Nyanyikan Lagu Kebangsaan dan Pantau Debat Capres
2019-04-14 15:52:36

Keterangan Foto: Suasana Nobar Debat Capres 2019 yang dihadiri oleh Relawan Unicorn, Blogger,Blogger, dan Influencer, di Beranda Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.(13/4).(Foto: BH/na)
JAKARTA, Berita HUKUM- Para "Unicorn" turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di salah satu cafe di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Lagu kebangsaan itu diputar sebelum acara debat kelima calon presiden dan wakil presiden digelar, Sabtu malam, (13/4).

Di cafe itu, siaran debat yang disiarkan sejumlah stasiun tv nasional, ditayangkan lewat tiga layar besar. Para "Unicorn" turut hadir di sana.

"Unicorn" yang dimaksud di sini adalah kelompok relawan pendukung capres-cawapres Jokowi-Amin.

Nama Unicorn ramai diperbincangkan publik saat debat calon presiden putaran kedua, Minggu, (17/2/2019). Saat itu dalam debat, tampak calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, terlihat kebingungan dengan istilah Unicorn saat ditanya calon presiden nomor 01, Jokowi.

"Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung perkembangan unicorn-unicorn di Indonesia?" tanya Jokowi.

Mendengar pertanyaan dari lawannya, Prabowo balik bertanya. "Yang Bapak maksud unicorn-unicorn, maksudnya yang itu apa? Yang online-online itu kah?" Kata Prabowo. Mendengar ucapan Prabowo saat itu, Jokowi hanya mengangguk saja.

Unicorn adalah sebutan bagi start up alias perusahaan rintisan yang bernilai di atas US$ 1 miliar atau setara Rp14,1 triliun (kurs Rp14.100 per US$). Saat ini Indonesia telah memiliki empat unicorn, yakni Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Berangkat dari sana, muncullah gagasan untuk membentuk Relawan Jokowi Amin yang dimotori oleh profesional muda yang tergabung dalam Komunitas Profesional Peduli Keuangan (KPPTK).

"Pada tanggal 13 Februari 2019 lalu, Kami membuat Seminar Nasional Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Keuangan Islam di Bursa Efek Indonesia. Dimana KH.Ma'ruf Amin sebagai Keynote Speaker dan acara di buka oleh Menkominfo, Rudiantara," Kata Yulian Hadromi saat ditemui pewarta BeritaHUKUM.com dalam acara nobar debat pilpres, Sabtu malam (13/4).

Dalam seminar tersebut, lanjut Yulian, hadir juga salah satu panelis yaitu Bukalapak sebagai unicorn Indonesia.

Yulian juga menceritakan kronologis terkait penggunaan nama Relawan Unicorn yang mengingatkannya pada sebuah fiksi kuda Unicorn.

"Kuda unicorn umumnya dianggap sebagai simbol kesucian dan keanggunan. Sementara tanduk unicorn dipercaya punya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit dan racun."

"Nah, simbol kuda unicorn ada pada paslon nomor 01. Insya Allah Pak Jokowi dan Pak Kyai akan memajukan Indonesia," kata Yulian.

Selain itu, tambah Yulian, Unicorn identik dengan anak muda yang berhasil membangun usaha start upnya menjadi perusahaan besar.

"Dan kami Relawan Unicorn mengajak anak-anak muda untuk memilih Paslon nomor 01. Karena hanya mereka lah yang telah memiliki visi dan misi yang jelas untuk para pebisnis pemula," tandasnya.

Selain Relawan Unicorn, acara ini juga dihadiri wajah-wajah millenial, bloger,vloger, dan influencer.

Mereka berharap, pasangan Jokowi-Amin bisa terpilih kembali, supaya pembangunan yang sudah dijalankan dapat dilanjutkan.(bh/na)


 
Berita Terkait Pilpres
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Sosialisasi Jamu Herbal Kenkona di Depok, Ketum HMS Centre Yakin Tak Sampai 5 Persen Terpapar Covid19 di Indonesia
Kabaharkam Serahkan Ribuan APD Covid-19 Bantuan Kapolri untuk RS Bhayangkara Polda Jawa Timur
Kasus Kondensat BP Migas - TPPI, Terdakwa: Pemberian Kondensat Kepada PT TPPI Berdasarkan Kebijakan Pemerintah
Dekan FH UII: Guru Besar Hukum Tata Negara Kami Diteror!
Lindungi Warga DKI, Anies Pasang Badan
Beberapa Hari Dibuka, Ratusan Sekolah di Korsel Harus Ditutup Lagi karena Lonjakan Kasus Covid-19
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Ternyata Sebelum Ruslan Buton, Khoe Seng Seng Juga Sudah Lebih Dulu Minta Jokowi Mundur
Inilah Pernyataan Pers PP Muhammadiyah Tentang Pemberlakuan New Normal
Polri Siap Masifkan Protokol New Normal
Anies: Perpanjangan PSBB Jakarta Jadi Penentu Transisi Memulai 'New Normal'
Polri Tutup Pintu Masuk Arus Balik Menuju Jakarta
Polri Tangkap 2 WNA dan Sita 821 Kg Sabu
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]