Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Teror
PBNU: Teror Bom Solo Makin Sudutkan Islam
Monday 26 Sep 2011 15:21:15

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (Foto: Istimewa)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Tak hanya Muhammadiyah, ormas keagamaan, yakni Nahdlatul Ulama (NU) juga mengutuk keras aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Peristiwa ini kembali menyudutkan Islam. Untuk itu, pemerintah diminta segera mengungkap motif dibalik aksi tidak sangat biadab tersebut.

“Mengapa saat negeri mulai dalam keadaan kondusif, ada aksi-aksi tidak bertanggungjawab dan diluar rasa kemanusiaan ini? Apalagi selalu mengatasnamakan Islam. Peristiwa itu makin menyulitkan upaya perbaikan nama yang tengah kami lakukan bersama ormas keislaman lainnya," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj di Jakarta, Minggu (25/9).

Menurut dia, berkaca pada kejadian yang sama sebelumnya, aksi teroris dengan cara melakukan bom bunuh diri ini, benar-benar makin menyudutkan nama Islam, karena asal pelaku pengeboman ini. Kejadian ini tentu saja merugikan Indonesia di mata dunia internasional. Untuk mengembalikan citra Indonesia sebagai negara yang aman, NU meminta aparat keamanan dan intelijen segera mengungkap pelaku, dalang serta jaringan terorisnya bersama motif yang mendasarinya di balik aksi biadab tersebut.

Said juga mengimbau warga Nahdliyin senantiasa mengedepankan kewaspadaan. Seruan ini disampaikan atas dasar seluruh warga negara, apapun agama dan latar belakang yang dimilikinya, sudah semestinya hidup berdampingan saling menjaga satu sama lain. "Tidak semestinya ada sekelompok orang dengan apapun alasannya melakukan penyerangan, pengemboman dan teror dalam bentuk lain terhadap sesama manusia,” tandasnya.

Sementara itu, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi berpendapat bahwa salah satu faktor penyebab adanya kasus peledakan bom di Indonesia, karena masih lemahnya UU menyangkut penanggulangan terorisme. "BIN (Badan Intelijen Negara-red) tidak tajam menganalisis, karena UU juga belum tajam," kata Hasyim.

Dalam UU Pemberantasan Terorisme, lanjut dia, mestinya juga diatur tentang langkah-langkah pencegahan, bukan sekadar tindakan yang harus diambil setelah peristiwa terjadi. Aparat tidak perlu takut HAM. Semua pihak harus sepakat bahwa aksi teror itu juga melanggar HAM. Dengan begitu artis real dari HAM itu. “Bukan berarti harus korbankan semuanya demi slogan HAM," selorohnya.

Hingga kini, kata Hasyim, belum ada strategi yang jitu dan koordinasi yang matang untuk pemberantasan terorisme. Tapi, dalam menanggulangi terorisme, Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT) harus berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri untuk membuat program dari tingkat nasional sampai tingkat kabupaten/kota, tidak lagi hanya sebatas menggelar seminar.

Tokoh lintas agama, jelas Hasyim, juga perlu dilibatkan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang masalah yang menyangkut fundamentalisme agama. Gerakan antiteror harus dilakukan melalui pendekatan kultural, agama, hukum, keamanan dan represi secara seimbang. "Jika polisi hanya menembak di jalan, malah akan menyuburkan terorisme," imbuhnya.(mic/irw)

Share : Facebook |

 
Berita Terkait Teror
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
PAN: Jokowi Blunder Larang Menteri ke DPR
Theo Ketok Palu, Agung Laksono Tolak Hasil Rapat Pleno dan Deklarasi Presidium
Komandan PMPP TNI Resmikan Camp Garuda Konga XXXVII-A di Afrika
Fadli Zon: Tidak Ada Alasan Hentikan Program e-KTP
Piano Film Casablanca Terjual Rp35 Miliar
Bank Agris Siap IPO pada 22 Desember dengan Target Rp 103,50 Miliar
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Theo Ketok Palu, Agung Laksono Tolak Hasil Rapat Pleno dan Deklarasi Presidium
Bank Agris Siap IPO pada 22 Desember dengan Target Rp 103,50 Miliar
Soal Bendera Aceh, Tgk Muharuddin: Tetap Bintang Bulan
Proxy Asing Peluang, Tantangan dan Harapan MEA 2015
Dahlan Rais: Jadilah Politisi dan Kembalilah ke Muhammadiyah
Kajati DKI Sebut Tiga Berkas Pidana Terkait Aksi FPI Versus Ahok dalam Tahap Kajian
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer | Buku Tamu

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]