Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Amerika Serikat
Mengapa Presiden Trump Tidak ke Indonesia Saat Lawatan Perdana ke Asia?
2017-11-09 12:57:08

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyampaikan ucapan selamat kepada wartawan untuk pertama kalinya di Beijing.(Foto: Istimewa)
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Lawatan perdana Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke kawasan Asia mencakup sejumlah negara yang selama ini menjadi sekutu tradisionalnya, termasuk Jepang dan Korea Selatan, dan negara saingan AS, Cina.

Berbeda dengan mantan Presiden Obama yang baru melakukan lawatan ke Vietnam menjelang akhir jabatannya pada tahun 2016, Presiden Trump memasukkan Vietnam ke dalam daftar negara-negara pertama di Asia yang dikunjungi.

Di negara itu, ia akan menghadiri KTT APEC di Da Nang dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Tran Dai Quang di Hanoi.

TrumpHak atas fotoREUTERS
Image captionKebijakan Trump soal Asia adalah 'bagaimana agar kawasan ini tidak dilanda konflik'.

Namun Trump tidak mampir ke Indonesia dalam lawatan selama sekitar dua minggu ini.

Alasannya, kata Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, terkait erat dengan rencana Amerika di Laut Cina Selatan.

"Yang diutamakan oleh Trump sebetulnya pengamanan di Laut Cina Selatan. Laut Cina Selatan akan didefinisikan oleh Amerika sebagai kawasan Indo-Pasifik. Untuk memastikan bahwa Indo-Pasifik bisa terwujud, dia lebih mengutamakan kedekatannya dengan Vietnam karena Vietnam benar-benar anti-Cina," jelas Suzie Sudarman kepada BBC Indonesia, Rabu (8/11).

"Sedangkan Indonesia masih diragukan apakah Indonesia akan meminta bantuan banyak dari Cina dan demikian masih diragukan kesetiaanya kepada konsep Indo-Pasifik atau sebaiknya mendekati kalangan yang lebih simpatik dengan kawasan yang akan memusuhi sedikit," tambahnya.

Presiden TrumpHak atas fotoREUTERS
Image captionPresiden Trump berjabat tangan dengan sejumlah penari yang menyambutnya di Kota Tua, Beijing.

Kendati demikian, Indonesia dan Amerika Serikat mempunyai berbagai kerja sama straregis sehingga seharusnya Trump juga mengunjungi Indonesia, menurut anggota Komisi I DPR yang membidangi hubungan luar negeri, Charles Honoris.

"Tentunya kami sangat menyayangkan tidak mampirnya Presiden Trump ke Indonesia dalam kunjungannya ke Asia, apalagi kami merasa sebetulnya kita punya hubungan kerja sama yang cukup baik dan kita menganggap Amerika sebagai mitra strategis dalam berbagai hal.

"Misalnya, perdagangan, pemberantasan tindak pidana, termasuk terorisme dan lain sebagainya sehingga buat saya, memang agak mengecewakan ketika Donald Trump datang ke Asia dan tidak mampir ke Indonesia," kata Charles Honoris.

Kadar perdagangan AS di Laut Cina Timur

Di samping kepentingan untuk mengamankan Laut Cina Selatan, kunjungan Presiden Trump ke Asia kali ini juga dilandasi faktor perdagangan. Oleh karenanya, negara-negara Asia timur lebih berdampak terhadap kepentingan Amerika Serikat, kata Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia, Suzie Sudarman.

"Karena kadar lalu lintas perdagangan Amerika lebih kepada Laut Cina Timur. Jadi kalau mau mengamankan wilayah perdagangan yang paling penting bagi Amerika, ya harus mendekati negara-negara Asia timur," tuturnya.

Kapal USS Ronald ReaganHak atas fotoREUTERS
Image captionKapal induk USS Ronald Reagan berpatroli di Laut Cina Selatan pada akhir September 2017.

Adapun jalur pelayaran Laut Cina Selatan, lanjutnya, lebih banyak digunakan oleh negara-negara ASEAN yang kadar perdagangannya kurang besar tetapi kadar lalu lintas untuk jalur komunikasi pelayaran lautnya tinggi.

"Untuk kepentingan rakyat Amerika sendiri, sebetulnya ekonominya yang jauh dipacu dibandingkan dengan masalah-masalah keamanan per se (itu sendiri)," kata Suzie Sudarman.

Warga Korea SelatanHak atas fotoREUTERS
Image captionDi negara yang menjadi sekutu AS pun, terdapat warga yang menentang kedatangan Trump, seperti di Korea Selatan ini.

Dibandingkan dengan pendahulunya, mantan Presiden Barack Obama mengutamakan sekutu-sekutu baru yaitu negara-negara di Asia Timur dan juga sekutu-sekutu baru di kawasan Asia tenggara.

"Tapi kalau Donald Trump mungkin pemikirannya hanya bagaimana menggerakan kembali ekonomi Amerika dan jangan sampai kawasan itu dipenuhi konflik. Misalnya, konflik dengan Korea Utara, Korea Selatan, konflik dengan Cina, konflik dengan Taiwan. Itu jauh lebih membahayakan alur perdagangan Amerika Serikat dibandingkan Laut Cina Selatan," tambah Suzie Sudarman.

Ketika terpilih sebagai presiden AS untuk periode pertama tahun 2009 lalu, banyak kalangan di Indonesia mengharapkan Obama melawat ke Indonesia dalam kunjungan perdananya ke Asia mengingat kedekatannya dengan Indonesia lantaran pernah menghabiskan masa kecilnya di Jakarta.

Namun Obama baru berkunjung ke Indonesia satu tahun kemudian atau pada November 2010, dan setelah tidak menjabat presiden lagi ketika bersama keluarganya berlibur di Indonesia pertengahan tahun 2017.(BBC/bh/sya)



Share : |

 
Berita Terkait Amerika Serikat
Legislator Minta RI Waspadai AS Bangun Pangkalan di Papua Nugini
Donald Trump Minta Mahkamah Agung Larang Transgender Jadi Tentara AS
Perang Dagang: AS Terapkan Bea Masuk Produk Cina Bernilai Hampir Rp3.000 Triliun
Akhirnya Barack Obama Bicara, Menyerang Donald Trump Soal 'Hal-hal Gila di Gedung Putih'
Uni Eropa dan Kanada Bersiap Lancarkan Perang Dagang dengan AS
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Legislator Minta Ketegasan Kemenlu Terhadap Penahanan Muslim Uighur di Cina
Persija Pawai Juara, Ditlantas PMJ Lakukan Rekayasa Lantas di SU GBK dan Balaikota
Selangkah Lagi Indonesia Menjadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia 2020
PAN: Pro-Jokowi di Sumsel Bukan Kader, Keterlaluan Bohongnya!, DPW Sumsel Tempuh Jalur Hukum
BPN Prabowo-Sandi: Alhamdulillah, Biang Fitnah Sudah Dukung Jokowi
Kapendam Jaya Mengapresiasi Polisi Cepat Menangkap Pelaku Penganiayaan Anggota TNI
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Tim Siber Bareskrim Polri Menangkap 3 Pelaku Pembobol Kartu ATM Mencapai Rp 2,5 Miliar
Fahri Hamzah Dukung Pansus Tercecernya KTP-el
SAPDA5 Laporkan Hasto ke Bawaslu RI, Diduga Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Lakukan Black Campaign
Inilah 3 Orang DPO Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Ciracas, Jakarta Timur
Diduga Kasus Tambang di Bukit Soeharto, Kejati Kaltim Geledah Kantor PT Kaltim Batu Manunggal
Kapolda Metro Jaya Memerintahkan untuk Ungkap Pelaku Anarkis di Polsek Ciracas
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]