Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pemindahan Ibu Kota
Kritik Jokowi Soal Pemindahan Ibu Kota, SBY: Konsepnya Seperti Apa?
2019-12-12 06:18:32

Pidato politik SBY.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Rencana pemindahan ibukota negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur mendapat kritik dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY menyebutkan, perihal pemindahan ibukota bukanlah suatu hal yang mudah dan perlu perencanaan yang matang.

Terlebih soal esensi dari rencana tersebut, yang kata SBY bukan hanya sekedar membangun infrastruktur.

"Bukan sekadar membangun infrastruktur fisik. Membangun sebuah ibukota hakikatnya adalah membangun kehidupan, membangun sistem. Tapi Demokrat yakin, pemerintah sangat tahu," ujarnya saat menyampaikan pidato politiknya di Jakarta Convention Centre, Jakarta Pusat, Rabu (11/12).

Pembangunan ibukota baru, ditegaskan Presiden RI keenam itu, juga memerlukan biaya yang sangat besar dan jangka waktu yang tidak singkat.

Karenanya, ia mempertanyakan perincian konsep serta perencanaan yang telah disusun oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Konsepnya seperti apa? Timeline-nya (jadwal pembangunannya) seperti apa? Berapa besar biaya yang digunakan? Dari mana anggaran itu diperoleh? Apakah betul ada pemikiran untuk menjual aset-aset negara dan bahkan utang ke luar negeri untuk membiayainya?," kata SBY.

"Hal-hal inilah yang ingin kami dengar. Saya yakin rakyat Indonesia juga ingin mendengar dan mengetahuinya," sambungnya.

Sementara, Carut-marut perekonomian nasional dan makin susahnya kehidupan masyarakat terjadi karena pemerintah gagal mencapai target penerimaan pajak.

Begitu dikatakan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato Refleksi Akhir Tahun di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu (11/12).

"Penerimaan pajak jauh dari target, sampai bulan Oktober 2019, penerimaan pajak masih kurang Rp 559 triliun," kritik SBY.

Kegagalan pencapaian target pajak ini berimbas pada defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal itu makin diperparah dengan pola belanja yang terlalu boros.

"Terus terang, Demokrat mengamati sasaran belanja negara kita memang tergolong tinggi. Barangkali juga terlalu ekspansif untuk ukuran ekonomi Indonesia yang tengah menghadapi tekanan," jelasnya.

Sebagai solusi, kata Presiden keenam RI itu, pemerintah selalu bergantung pada utang. Hal ini pun menjadi pertanyaan baginya soal seberapa ideal kondisi utang Indonesia saat ini.

"Andaikata rasio utang terhadap PDB dianggap aman di angka 30 persen, meningkat sekitar 5 persen dari lima tahun yang lalu, untuk apa utang itu digunakan?" tanyanya.

"Dapatkah dipastikan bahwa utang baru itu bermanfaat, produktif dan mampu menjaga pertumbuhan kita?" tandasnya.

Sedangkan, kritik disampaikan Partai Demokrat kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mengalokasikan APBN tahun 2020 sebesar Rp 372,5 triliun untuk dana bantuan sosial.

Anggaran ini cukup besar, meskipun tidak sebesar anggaran untuk pembangunan infrastruktur," ujar SBY.

Sayangnya, anggaran tersebut menjadi tidak besar karena harus terbagi pada program bantuan pangan, pendidikan, kesehatan, subsidi tepat sasaran, dan juga dana desa.

SBY menyebut seharusnya pemerintah bisa menambah alokasi dana sosial itu. Yakni, dengan mengurangi porsi anggaran pembangunan infrastruktur.

"Justru pembelanjaan yang terlalu tinggi dalam pembangunan infrastruktur, dan menomorduakan pembangunan manusia menurut kami tidak tepat dan tidak adil," ungkapnya.

SBY pun turut menyinggung soal rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik serta iuran BPJS Kesehatan di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang tidak cukup baik untuk dibanggakan.

"Secara moral dan sosial, tidaklah bijak membebani rakyat secara berlebihan ketika ekonomi mereka sedang susah," pungkasnya.(dt/aut/RMOL/bh/sya)


 
Berita Terkait Pemindahan Ibu Kota
 
Kegiatan Mega Proyek di Kaltim Harus Libatkan Masyarakat Lokal
 
Kota Samarinda Sebagai Penyangga IKN Diprediksi akan Tertinggal
 
Kritik Jokowi Soal Pemindahan Ibu Kota, SBY: Konsepnya Seperti Apa?
 
Siapkan Sumber Daya Manusia Menyambut Ibukota
 
Pemindahan IKN Harus Melalui Kajian Mendalam
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index




  Berita Terkini >>
 
Virus Corona: Ratusan Warga Asing Dievakuasi dari Wuhan, TNI AU Siapkan 3 Pesawat
Kedutaan Amerika Serikat di Baghdad Kena Hantam Tiga Roket
Polisi Tangkap 3 Tersangka Pemalsu Dokumen Akta Nikah, Salah Satu Pelaku Ngaku Pendeta
BidDokkes Bersama Dit Polairud Polda Gorontalo Gelar Bhakti Kesehatan Masyarakat Pesisir Pantai
Mantan Dirut Transjakarta Donny Andy Saragih Akan Dicekal ke Luar Negeri
Polres Gorontalo Tetapkan IY Sebagai Tersangka Kasus Cabul Anak Berkebutuhan Khusus
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Polisi Tangkap 3 Tersangka Pemalsu Dokumen Akta Nikah, Salah Satu Pelaku Ngaku Pendeta
Benny K Harman: Pak Firli, Kasus Masiku Momentum KPK Buktikan Tidak Di Bawah Penguasa
Polda Metro Jaya Beberkan Hasil Pengungkapan Narkotika Ganja Total 1,3 Ton
PN Jakarta Pusat Paling The Best
Gerindra-PKS Sepakati Nama Cawagub, Anies Siap Teruskan Ke DPRD DKI
Pasangan Suami Istri Ini Berhasil Gasak 100 Motor Sejak 2018
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]