Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Budaya
Kenduri dan Kirab Agung Nusantara Jelang HUT RI Ke 77, Boki Ratu Nita: Budaya Menjadi Induk Segala Produk Hukum
2022-08-15 00:36:26

Boki Ratu Nita (baju putih) saat acara Kenduri dan Kirab Agung Nusantara dari berbagai macam organisasi Raja Sultan serta beberapa komunitas paranormal Indonesia yang diselenggarakan di Museum Satria Mandala Jakarta pada, Ahad (14/8).(Foto: BH /nmd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Jelang memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke- 77 tahun. Para perwakilan beberapa organisasi Raja Sultan beserta beberapa komunitas Paranormal Indonesia menggelar acara Kenduri dan Kirab Agung Nusantara yang diselenggarakan di Museum Satria Mandala, Jakarta pada, Ahad (14/8).

Di lokasi, nampak juga hadir perwakilan raja raja dari kesultanan beberapa wilayah, seperti dari Bugis, Sumedang Buton, Demak, Surakarta, Medan, dan Palembang serta juga dari Barisan Nusantara (Barunsa) dan juga lembaga pemangku adat Kedaton Jayakarta. Hadir juga, ketua umum Yarasutra Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, Kedaton Nusantara Jayakarta P.N.A M.Mas'Ud Thojibj.A , Presidium M.C.K.N Prof. Dr. M.Asdar, S.E M.Si, dan Srikandi Nusantara Dra Elly Juniarty MS, MM.

Indonesia memiliki kekhasan, yang ada di Budaya dan Adat tersebar di wilayah 34 provinsi. Lantaran itu, timpal Boki Ratu Nita menyampaikan hal tersebut menjadi kekuatan Bangsa Indonesia. Jadi, kedepan sudah mulai banyak orang yang menggabungkan budaya dan adat, ungkapnya.

"Kami berharap budaya, menjadi induk dari segala induk produk hukum yang ada di Indonesia. Karena, memang sebetulnya sebelum NKRI ini ada. Di era kerajaan kerajaan sudah pernah berdiri. Paling tidak, tata aturan dan adat ini bisa dimasukkan sebagai bahan pertimbangan untuk produk-produk hukum Indonesia yang lainnya. Disesuaikan dengan lokasi, dan tempatnya masing masing," ungkap Boki Ratu Nita, Wali Sultan dari Kesultanan Ternate itu mengatakan.

Adapun, Doa bersama tersebut digelar dalam rangka menjaga Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kejayaan NKRI serta memperingati Hari HUT Kemerdekaan RI ke - 77. Diselingi, saat acara berlangsung, turut dipentaskan tarian adat budaya tradisional, bahkan juga adegan debus. Tak pelak, jejeran peserta berbaris membawa roti buaya mengenakan pakaian adat tradisional kebaya khas Nusantara.

Acara doa bersama tersebut digelar dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kejayaan NKRI.

Boki Ratu Nita Budi Susanti pun mengatakan, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke -77, Komunitas para raja Sultan se- Nusantara dari berbagai macam organisasi Raja Sultan bahkan serta beberapa komunitas paranormal Indonesia yang telah tergabung.

"Alhamdulillah, berhasil menyelenggarakan acara tumpengan atau usulnya adalah pembacaan doa untuk keselamatan bangsa dan negara Indonesia yang sangat kita cintai," ujar Boki Ratu Nita Susanti, istri almarhum mantan Sultan Ternate Mudaffar Sjah ucapkan apresiasi.

Lebih lanjut, Boki Ratu Nita mengutarakan, Kami komunitas para Raja Sultan se- Nusantara tetap konsisten, dan berjuang di garis adat.

Di Indonesia ini memiliki banyak kesultanan, adat yang memiliki ke banyak kesultanan, banyak adat dan kekhasan masing masing. "Kami sangat saling menghormati satu sama lain," terang Boki Ratu Nita, yang juga mantan anggota legislatif tersebut.

Boki pun menjelaskan, sedari doa yang diucapkan tadi prosesi Kenduri dan Kirab Agung menunjukkan bahwa kami ber bhinneka tunggal Ika dan menghargai agama satu sama lain dan menghormati doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

"Dimana Kami pun bersyukur demi masa depan bangsa dan negara ini," kata Dia

Selanjutnya, ungkap Boki Ratu Nita mengatakan, bagi para elite-elit yang terkait yang berada di tatanan kenegaraan negara Indonesia, kami yang berada di komunitas Raja Sultan se-Nusantara kami masih ada dan tetap mendukung NKRI dan kami tetap menjaga tatanan dan menjaga persatuan dan kesatuan juga menjaga aturan yang berlaku tidak hanya yang ada di pusat, bahkan juga di wilayah kami masing-masing.

"Dipelihara lah kami dengan baik dan di tatalah kami, dibawah UU yang ada dan berlaku. Karena, saya pun mengetahui, semua UU yang mengatur tentang budaya dan adat itu sudah diatur di bawah sebuah lembaga UU yang ada. Baik, di lingkungan wilayah pusat dan maupun di daerah," ujarnya.

Inilah Bhineka Tunggal Ika. Dan mudah mudahan ke depan, kami jangan hanya dijadikan tontonan budaya, atau yang dengan pakaian khas (aneh). Ataupun kami jangan hanya dibutuhkan jikalau ada kebutuhan kebutuhan tertentu saja.

"Sebaiknya, Pemerintah menggandeng kami, menggandeng kita semuanya. Sebagai bagian, tata aturan yang mana bisa membantu dengan hati ikhlas kita demi untuk bangsa dan negara ini." Imbuh Boki berharap.

Diketahui, sebelumnya acara Kenduri dan Kirab Agung sudah pernah dilaksanakan bersama dengan FAIKM, dan dengan sultan Ternate dulu. Kemudian dengan sultan Hasinuwon dari Kasunanan. Lalu, bahkan juga dari Sultan Jogya, bahkan dari beberapa sesepuh lain. Kita sudah pernah mendirikan organisasi para Raja se-Nusantara ada di 34 provinsi. Dan tergantung, siapa yang kebagian. Dan diberikan kesempatan.

Alhamdulillah, kala itu kami didukung oleh Pemerintah Pusat dan didukung oleh Pemerintah Daerah masing masing. Sehingga, acara bisa terselenggara dengan baik, terutama untuk lokasi (tempat) bahkan juga sponsor sponsor tertentu, ujarnya menerangkan.

Diketahui, untuk menggelar acara seperti ini juga cukup lumayan. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada hari ini. Kami berusaha menggelar dan melaksanakan acara hingga terselenggara dengan baik.

Boleh dibilang acara hari ini. Dimana, tumpengannya masing masing. Lantaran, anggarannya memang tidak ada. Namun, ini adalah salah satu itikad baik dari kami dan bisa terselenggara karena dukungan semua pihak. "Mudah-mudahan tidak hanya sebagai pajangan saja. Namun, kami didengarkan lah. Apa sih, yang menjadi pemikiran kita kita ini untuk memberikan masukan kepada bangsa dan negara Indonesia ini," paparnya.

"Tidak hanya dibahas, masa lalu kita pernah jaya. Kita tidak akan menjadikan negara kerajaan kok. Paling tidak, kita adalah bagian kekuatan dari sebuah bangsa. Saya yakin, Indonesia ini memiliki keunikan tersendiri, jika dibandingkan dengan negara-negara lain," pungkasnya


 
Berita Terkait Budaya
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Tindakan Represif Personel TNI terhadap Suporter di Stadion Kanjuruhan Malang Bakal Diproses Pidana
Buntut Tragedi Kanjuruhan, Kapolres Malang dan 9 Komandan Brimob Dicopot dari Jabatannya
Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan: 125 Penonton dan 2 Anggota Polisi
Anggota DPR Dorong Pelaksanaan Pemilu 2024 yang Jujur dan Adil
Ketua KPK Firli Dituduh Jegal Anies, Pengamat: Berlebihan dan Tidak Berdasar!
Firli Bahuri: Bahaya Laten Korupsi Harus Diberantas Sampai ke Akarnya
Untitled Document

  Berita Utama >
   
KPK Tetapkan Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan 9 Orang sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap Perkara di MA
Heboh Video! Antrian Panjang di SPBU Kota Manna Bengkulu Selatan, BBM Langka?
Tarif Ojol Naik, Wakil Ketua MPR: Pemerintah Tidak Memahami Kesulitan Hidup Rakyat
Pemerintah Umumkan Harga BBM Pertalite Naik dari Rp 7.650 Menjadi Rp 10.000
Kejagung Sita Uang dan Aset Senilai Rp 17 Triliun Kasus Surya Darmadi yang Merugikan Negara Rp 104,1 T
HNW Menyayangkan Melemahnya Program Perlindungan Sosial Pemerintah di Tahun 2023
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]