Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
Kerusakan Lingkungan
Jika Suara Masyarakat untuk Menyelamatkan Lingkungan Hidup Begitu Besar, lalu Pemerintah Bagaimana?
Thursday 23 Jan 2014 18:27:34

Choki-Netral, Gembul - Navicula, Slamet-Kiara, Alien-WALHI, JRX-Superman Is Dead, Yaya-WALHI, Moko-WALHI Bali sebagai memberikan keterangan dalam konferensi pers.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Kerusakan lingkungan hidup Indonesia semakin massif yang berujung pada berbagai bencana lingkungan yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia dalam beberapa hari ini, dengan korban jiwa yang begitu besar dan kerugian lain yang ditimbulkan akibat bencana.

Teluk Benoa di Bali adalah salah satu dari sekian banyak wilayah yang memiliki fungsi ekologis yang begitu tinggi yang harus diselamatkan, untuk hari ini dan generasi yang akan datang. Proyek Teluk Benoa yang dilakukan oleh PT. TWBI yang akan menghabiskan kawasan hutan mangrove dengan luas mencapai 838 hektar yang fungsi ekologisnya tidak tergantikan. Bencana banjir dan abrasi pantai akan setiap saat mengancam warga, jika reklamasi pantai tetap dilakukan.

Koordinator Pendidikan dan Penguatan Jaringan KIARA, Selamet Daroyni menyatakan bahwa, proyek reklamasi yang ada di berbagai Indonesia merupakan bentuk kemudahan bagi pengusaha untuk menguasai lahan-lahan di pesisir dan memberikan dampak bagi penghidupan nelayan dan semakin memperparah kota-kota pesisir, karena hilangnya daya dukung lingkungan yang berakibat pada bencana banjir.

I Wayan “Gendo” Suardana mengatakan “ bahwa, selama ini penyelamatan Teluk Benoa bukan hanya disuarakan oleh aktifis lingkungan hidup, namun seluruh elemen masyarakat Bali, diantaranya para seniman dan musisi yang peduli dengan kondisi lingkungan hidup di Bali dan Indonesia. Jerinx SID (Superman is Dead), Gembul Navicula, Coki Netral, Sarasdewi diantaranya yang mendukung penyelamatan lingkungan hidup di Bali. Lagu Tolak Reklamasi diciptakan dan disuarakan oleh para musisi dan aktifis. Panggung-panggung solidaritas dari para musisi adalah salah satu bukti kepedulian terhadap lingkungan yang begitu besar.

Jerinx SID, Gembul Navicula dan Coki Netral sebagai musisi yang menyuarakan penyelamatan Teluk Benoa menyatakan bahwa,

“Penyelamatan Teluk Benoa memang harus disuarakan oleh lebih banyak lagi, karena proyek reklamasi Teluk Benoa bukan hanya mengancam lingkungan hidup, kawasan konservasi dan biota laut yang ada didalamnya”, namun juga penghancuran nilai sosial dan kultural masyarakat di Bali”. Jerinx SID menambahkan bahwa, “sampai kapanpun dengan sekuat tenaga kami akan terus berupaya menyelamatkan Teluk Benoa dan LH di Indonesia, dan perjuangan inilah yang akan kami sampaikan kepada anak cucu kami”.

Nur Hidayati, Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye WALHI mengatakan bahwa,

“Keterlibatan musisi dan para seniman dalam setiap advokasi dan kampanye penyelamatan lingkungan hidup bersama WALHI, menandakan bahwa memang isu lingkungan hidup adalah isu semua orang, karena ini menyangkut soal keberlanjutan kehidupan, bukan hanya untuk hari ini, juga generasi yang akan datang”.

Proyek reklamasi pantai bukan hanya terjadi di Teluk Benoa, namun daerah lain seperti Jakarta, Manado, Kendari, dan Palu. Banjir di Jakarta dan Manado harusnya bisa menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah daerah, untuk tidak terus melanjutkan proyek reklamasi.

Situasi bencana ekologis di berbagai daerah di Indonesia yang semakin massif dan meluas, juga sekaligus dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus menyuarakan penyelamatan lingkungan hidup. Kami percaya bahwa dukungan dari masyarakat yang kuat akan menjadi “warning” agar pemerintah dan pemilik modal besar tidak seenaknya berinvestasi dan merusak lingkungan hidup, dan sumber kehidupan rakyat.(wlh/bhc/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Kerusakan Lingkungan
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Soal Gerakan Kedaulatan Rakyat, MUI DIY Sarankan Jokowi Mundur
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Usai Pengumuman Hasil Pemilu Oleh KPU, Pengamat: Keamanan Kondusif
Fahri Hamzah: Rakyat Bakal Melawan Balik Jika Terus Diancam
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
PAN, Gerindra, PKS, dan Berkarya Tolak Teken Hasil Pileg 2019
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Potret Pemilu 2019, LKPI: Ada 72,8 Persen Mengatakan Ada Banyak Kecurangan
Bawaslu Sebut 6,7 Juta Pemilih Tak Dapat C6 dan 17 Ribu TPS Telat Dibuka
5 Mantan Danjen Kopassus Siap Pimpin Aksi Demo 22 Mei 2019 Mendatang
Resmob PMJ Menangkap Wanita Pengemar Game Mobile Legend yang Bobol Bank Rp1,85 M
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]