Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Virus Corona
Hampir 800 Kematian Sehari, Italia Rekor Kematian Covid-19 Tertinggi Sedunia: Ini 'Krisis Paling Sulit'
2020-03-22 15:15:39

Para Korban yang Meninggal di Letakkan di Peti Mati Akibat Covid19 di italia
ITALIA, Berita HUKUM - Wilayah Lombardia di Italia menerapkan aturan pembatasan yang lebih ketat untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Lombardia adalah wilayah yang paling parah terdampak virus corona di Italia, dengan angka kematian 3.095 atau sekitar 64% dari total kematian di Italia.

Peraturan baru yang diumumkan pada hari Sabtu malam itu melarang olahraga dan aktivitas fisik di luar rumah, bahkan secara individu.

Penggunaan mesin penjual otomatis, alias vending machine, juga tidak boleh.

Langkah ini dilakukan ketika Italia melaporkan hampir 800 kematian akibat virus corona pada hari Sabtu, yang membuat jumlah korbannya selama sebulan terakhir mencapai 4.825, tertinggi di dunia.

Kegiatan 'non-esensial' ditutup

Pembatasan yang lebih ketat ini diumumkan presiden wilayah, Attilio Fontana, dalam sebuah pernyataan. Ia juga meminta para pengusaha menutup semua operasi, kecuali rantai pasokan yang "esensial".

Semua pekerjaan di kawasan pergedungan akan dihentikan, kecuali di rumah sakit, jalanan, dan kereta api.

Semua pasar kaget mingguan juga dihentikan sementara.

Lombardia telah dikarantina sejak tanggal 8 Maret, dan pemerintah Italia berharap kebijakan itu berdampak.

Pada hari Sabtu, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte memerintahkan penutupan semua tempat usaha "non-esensial".

Namun ia tidak memerinci tempat usaha mana yang dianggap esensial.

Supermarket, apotek, kantor pos, dan bank akan tetap buka dan transportasi umum akan terus berjalan.

Dalam pidato kenegaraan yang disiarkan melalui televisi, PM Conte mengatakan, "Kita akan memperlambat mesin produksi negara ini, tapi kita tidak akan menghentikannya."

Conte menggambarkan situasi ini sebagai "krisis paling sulit dalam masa pasca-perang".

Kendati pemerintah di seluruh dunia telah menerapkan berbagai langkah, sejauh ini jumlah kasus baru dan kematian terus bertambah.

Ada 307,280 kasus virus corona di seluruh dunia dengan lebih dari 13,049 kematian pada Minggu (22/3)..

Apa yang terjadi di negara lain?

Kementerian Kesehatan Spanyol melaporkan tingkat kematian akibat Covid-19 melonjak hingga 32 persen, menjadi 1.326 kematian yang dikonfirmasi. Angka ini paling tinggi kedua di Eropa setelah Italia.

Dalam konferensi pers pada Sabtu malam, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memperingatkan bahwa "situasi terburuk masih akan datang" dan "hari-hari yang sangat sulit ada di depan".

Pemerintah telah menerapkan karantina wilayah bagi sekitar 46 juta orang yang hanya diizinkan meninggalkan rumah mereka untuk pekerjaan penting, belanja makanan, alasan medis, atau untuk mengajak anjing jalan-jalan.

Menara EiffelHak atas fotoAFP
Image captionPada hari Sabtu, Menara Eiffel dinyalakan selama 10 menit untuk menghormati para petugas kesehatan Prancis.

Sejumlah pemimpin dunia dan tokoh politik mengimbau warga untuk mematuhi aturan.

Kecaman bagi yang tidak menjaga jarak

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan Layanan Kesehatan Nasional Inggris atau NHS bisa "kewalahan" jika masyarakat tidak bertindak untuk memperlambat penyebaran virus corona yang "semakin cepat".

Ia meminta khalayak untuk bergabung dengan "upaya nasional yang heroik dan kolektif" serta menuruti anjuran untuk menjaga jarak alias social distancing.

Menteri Ekonomi dan Pariwisata Pedesaan Skotlandia Fergus Ewing meminta masyarakat tidak melakukan perjalanan ke Dataran Tinggi Skotlandia setelah muncul laporan tentang orang-orang yang berusaha melarikan diri dari wabah di Inggris.

Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran mengecam orang-orang yang melanggar perintah untuk menjaga jarak, menyebut mereka "berbahaya" dan "tidak bertanggung jawab".

Lebih dari 12.500 orang telah tertular virus corona di Prancis dan 562 orang meninggal dunia hingga hari Sabtu.

Gubernur New York Andrew Cuomo memarahi anak-anak muda yang ia klaim mengabaikan perintah untuk tidak berkerumun. Ia mengatakan bahwa ia berencana mengunjungi taman "untuk melihat sendiri situasinya".

"Terus terang saya tidak peduli. Ini masalah kesehatan masyarakat dan Anda tidak bisa membahayakan kesehatan orang lain," katanya. "Anda seharusnya tidak membahayakan kesehatan Anda sendiri."(BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Virus Corona
 
Perkembangan COVID-19 di Jakarta Per 18 September 2020
 
Lebih Dari 3 Pegawai BPN Jaktim di Isolasi ke Wisma Atlet
 
Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa 'Harus Jadi Peringatan Bagi Kita Semua', Kata WHO
 
Kolaborasi Multipihak Mutlak Diperlukan dalam Penanganan Covid-19
 
Polda Metro: 9.374 Pelanggar Terjaring Operasi Yustisi PSBB Ketat, Total Denda Capai Rp 88 Juta
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Aksi Damai Massa 'Minta DPR RI Dengarkan Suara Rakyat Agar Pilkada 2020 Ditunda'
Tanpa Peran Soeharto, Indonesia Jadi Negara Komunis
PKS: Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah Berbahaya dan Tidak Relevan
Ditlantas Polda Metro Adakan Baksos Hari Lantas Bhayangkara ke-65, Puluhan Ton Beras Dibagikan
NU Minta Pilkada Serentak 2020 Ditunda
Ribuan Warga Ketapang Mengamuk, TKA China jadi Bulan-bulanan, Dipukuli dan Kabur ke Hutan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Jansen Sitindaon: Dulu Jadi Jubir Sandiaga, Sekarang Jadi Lawan
Said Didu: Bu Menkeu, Dulu untuk Dampak Krisis Ditolak, Sekarang Jiwasraya 'Dirampok' Kok Malah Dikucurkan 20 T?
Hasil Olah TKP Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri: Ada Unsur Pidana
Sekda DKI Jakarta Saefullah Tutup Usia
Syekh Ali Jaber: Saya Tidak Terima Kalau Pelaku Penusukan Dianggap Gila, Dia Sangat Terlatih
59 Negara Tolak WNI, Refly Harun: Kesalahan Jokowi, Bukan Anies
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]