Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pidana    
 
Penggelapan
Gelapkan Rp 275 Juta Penjualan Mobil Istri Mantan Pejabat Samarinda, Mahdionor di Vonis 2,6 Tahun Penjara
2021-02-05 13:49:10

erdakwa Mahdianor yang saat ini di tahan di Rutan Kelas II A Samarinda, mengikuti sidang pembacaan vonis melalui virtual sol zoom.(Foto: BH /gaj)
SAMARINDA, Berita HUKUM - Terbukti bersalah gelapkan uang senilai Rp 275 juta dari hasil penjualan satu unit mobil milik istri mantan pejabat di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), terdakwa Mahdianor di vobis 2 tahun 6 bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda pada sidang yang digelar, Selasa (2/2).

Sidang pembacaan vonis yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Joni Kondolele,SH, MM didampingi Hakim Anggota Deky Velix Wagiju, SH, MH dan Ir Abdul Rahman Karim, SH, dalam amar putusannya menyatakan, terdakwa Mahdianor terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Mahdianor Bin Badaruddin dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan, dikurangi masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan, ujar Ketua Majelis Hakim Joni Kondolele dalam amar putusannya.

Vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim 2 tahun 6 bulan penjara sama dengan tuntutan JPU. Sebelumnya Jaksa Dwinanto dalam tuntutannya meminta majelis hakim agar terdakwa terbukti bersalah dan menuntutnya selama 2 tahun 6 bulan penjara.

"Barang bukti berupa uang Rp3,4 Juta dan 1 buah Handphone Merk Iphone 11 warna merah dikembalikan kepada korban," sebut KMH Joni Kondolele, SH.

Terdakwa Mahdianor pria tamatan SD ini yang digiring Jaksa Penuntut Umum Dwinanto dari Kejaksaan Negeri Samarinda dengan nomor perkara: 812/Pid.B/2020/PN, dalam sidang sebelumnya kepada Jaksa Penuntut Umum dan mengakui perbuatannya, dimana uang senilai Rp 275 juta hasil penjualan mobil tersebut digunakan untuk keperluan pribadi, selain untuk biaya hidup sehari-hari, uang tersebut digunakan untuk judi online dan untuk booking gadis melalui Bigo online.

Atas perbuatan kejahatan terdakwa yang sebelumnya merupakan sopir pribadi korban, bermula korban Fitriyanti Rahayu binti Awaluddin Madjid yang mantan istri pejabat di Samarinda yang pada Sabtu 15 Agustus 2020 lalu meminta terdakwa Mahdianor untuk menjual sebuah mobil miliknya Jenis/Type mobil: Toyota Fortuner, warna: Hitam, Nomor Polisi: KT 1118 IV Tahun 2014, dan terdakwa menyanggupinya.

Kronologis perbuatan terdakwa sebagaimana uraian Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya bahwa, setelah beberapa waktu kemudian, terdakwa menghubungi dan menyampaikan kepada saksi korban Fitriyanti Rahayu bin Awaluddin Madjid bahwa ada orang yang berniat membeli mobil dan ingin terlebih dahulu melihat mobil tersebut.

Maka terdakwa diminta oleh saksi Fitriyanti untuk mengambil mobil yang akan dijual tersebut yang dititipkan di saksi Bagar Herlambang, setelah 1 (satu) unit unit mobil jenis Toyota Fortuner warna hitam Nomor Polisi KT 1118 IV tahun 2014 beserta STNK dan BPKBnya ada berada dalam penguasaan terdakwa, pada hari Rabu tanggal 09 September 2020 sekira pukul 18.00 WITA bertempat di Jalan Syahrani Dahlan (ex Pelita) Perum PIMA Blok H 23 Kelurahan Rapak Dalam, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, terdakwa menjual 1 (satu) unit unit mobil jenis Toyota Fortuner warna hitam Nomor Polisi KT 1118 IV tahun 2014 tersebut kepada seseorang yang bernama Sdr. Gunawan Andi Aulia dengan harga sebesar Rp.275.000.000,- (dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah).

Hasil penjualan mobil tersebut uang diterima terdakwa secara bertahap, yang pertama diterima tunai oleh terdakwa sebesar Rp.135.500.000,- pada tanggal 09 September 2020 dan yang kedua diterima oleh terdakwa melalui transfer rekening di bank milik terdakwa sebesar Rp.139.500.000,- (seratus tiga puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah) pada tanggal 10 September 2020.

Namun sampai dengan tanggal 19 September 2020, Fitriyanti mengetahui bahwa terdakwa tidak menyampaikan uang hasil penjualan mobil tersebut, setelah korban Fitriyanti Rahayu konfirmasi kepada terdakwa Mahdianor, mengaku uang hasil penjualan mobil tersebut telah habis digunakan untuk keperluan pribadinya, sehingga Fitrianti Rahayu bin Awaluddin Madjid merasa dirugikan Rp 275 juta sehingga melaporkan kepada pihak berwajib.(bh/gaj)


 
Berita Terkait Penggelapan
 
Akan Ajukan PK, Tjong Alexleo Fensury Minta Eksekusi Ditunda
 
Gelapkan Rp 275 Juta Penjualan Mobil Istri Mantan Pejabat Samarinda, Mahdionor di Vonis 2,6 Tahun Penjara
 
Pelapor Bank BCA, Tjhin Arifin Chandra Jadi Tersangka
 
Sidang Kasus Dugaan Penggelapan Transaksi di Tokopedia Capai 500 Juta-an di PN Jaktim
 
Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Penggelapan Alat Pengaman BTS Milik XL Axiata
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Cegah Covid-19, Anggota DPR Minta Pemerintah Perketat Pengawasan Pintu Masuk
HNW: Empat Pilar Adalah Hasil Kesepakatan Bangsa Yang Harus Dijaga dan Dipertahankan
Ditahan KPK, Azis Syamsuddin Dijebloskan ke Rutan Polres Jaksel dengan Kondisi Diborgol
Eksepsi Penasihat Hukum Tergugat Edy Ishak Menolak Gugatan PT Intajaya Bumimulia
Asal-usul Senpi Anggota DPRD Tangerang, Beli dari Anggota Polda Metro Jaya
Tindak Tegas Pelaku Pembuang Limbah di Perairan Lampung
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Utang Melebihi Setengah Aset, Wakil Ketua MPR: Perlu Langkah Strategis Kurangi Utang
Ustadz di Tangerang Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal, Saat Pulang dari Masjid
Aturan Maritim Baru China Klaim LCS, Wakil Ketua MPR: Ini Jelas Tindakan Provokasi, Indonesia Harus Bersikap Keras dan Tegas
Biaya Bengkak Proyek Kereta Cepat, Politisi PKS: Sejak Awal Diprediksi Bermasalah
Cegah Masuknya Varian Baru Covid-19 Mu, DPR Minta Pemerintah Perketat Deteksi di Pintu Masuk
PKS: Peternak Menjerit, Kenapa Presiden Diam Saja?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]