Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Kriminal    
 
Penggelapan
Ferry Susanto Didakwa Gelapkan Uang Koperasi Rp200 Juta di Lapas Narkotika Bayur
2019-08-27 09:16:53

Terdakwa Ferry Susanto, saat sidang di Pengadilan Negeri Samarinda.(Foto: BH /gaj)
SAMARINDA, Berita HUKUM - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Meilany Magdalena dari Kejaksaan Negeri Samarinda, Kamis (22/8) menggiring terdakwa Ferry Susanto selaku Manager Operasional Koperasi di Lapas Narkotika Bayur Samarinda sebagai mitra PT. AVA (Anugera Vata Abadi) dengan dakwaan melakukan penggelapan uang Perusahan/ Koperasi senilai Rp 201.500.000,-

Dalam dakwaan JPU sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 374 KUHP, yang dibacakan Jaksa Yudhi Satrio, menyebutkan terdakwa Ferry Susanto dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu yang dilakukan terdakwa dengan cara-cara atau perbuatan untuk diri sendiri dan dilskukan dari Juni 2017 hingga 12 Mai 2019 lalu.

Diterangkan jaksa dalam dakwaannya dimana terdakwa dalam jabatannya sebagai Manajer Operasional di Lapas Narkotika Bayur Samarinda sebagai Mitra dari PT AVA (Anugerah Vata Abadi) perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan koperasi dan kantin, di mana terdakwa menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi tanpa izin dari perusahaan.

Jaksa juga dalam dakwaan merinci terdakwa Ferry Susabto sebelumnya menjabat sebagai staf koperasi di Lapas Narkotika Jakarta Timur, kemudian terdakwa dipindahkan ke Rutan Kls IIA Sempaja dan menjabat sebagai manajer operasional, dan bulan Agustus 2018 terdakwa kembali dipindahkan ke Lapas Narkotika Bayur Kota Samarinda dan menjabat sebagai manajer operasional, sebut Jaksa Yudhi dalam dakwaan.

"Kejadiannya bermula ketika terdakwa bertugas di koperasi Rutan kelas 2A Sempaja Kota Samarinda terdakwa menggunakan uang tanpa hak pada Juni 2018 sebesar Rp 55.625.000,- terang jaksa Yudhi, saat sidang di Pengadilan Negeri Samarinda, Kamis (22/8).

Kemudian sekitar bulan Agustus 2018 terdakwa dipindahkan ke lapas narkotika Bayur Kota Samarinda dan terdakwa kembali menggunakan uang milik PT AVA sebesar Rp 145.875.000 sehingga totalnya sekitar Rp 201.500.000

Menurut jaksa Yudi kasus ini terungkap, "ketika pada tanggal 12 Mei 2019 perusahaan melihat saldo kas di Lapas Bayur Kota Samarinda terlalu besar sehingga perusahaan meminta terdakwa untuk melakukan transfer uang ke rekening perusahaan namun terdakwa tidak melakukannya. Kemudian perusahaan melalui saksi Andre Pangestu melakukan pengecekan uang kas secara fisik ternyata saldonya hanya berkisar Rp 135.562.000,- dari jumlah yang seharusnya sebesar Rp 366.444.500,- dikurangi lagi dengan uang yang dipinjamkan ke anggotanya sejumlah Rp 28.500.000,- sehingga ada kekurangan kas sebesar Rp 202.382.000," jelas Jaksa.

Dari kekurangan sejumlah uang dimaksud dan diminta untuk mempertanggungjawabkan, "terdakda Ferry mengaku uang tersebut diambil sedikit demi sedikit yang digunakan untuk keperluan pribadi, diantaranya untuk untuk membiayai istri dan anak-anak terdakwa untuk berangkat dari Jakarta pindah ke Samarinda, lalu untuk biaya hidup sehari-hari, kemudian terdakwa juga menggunakan uang tersebut untuk menghitankan anak terdakwa dan digunakan untuk mudik Lebaran ke Tangerang bersama anak dan istrinya," pungkas Jaksa Yudhi dalam membacakan dakwaannya.(bh/gaj)

Share : |

 
Berita Terkait Penggelapan
Sidang Kasus Dugaan Penggelapan Ditunda, Terdakwa TY Ajukan 35 Bukti
Ferry Susanto Didakwa Gelapkan Uang Koperasi Rp200 Juta di Lapas Narkotika Bayur
Jane Shalimar Melaporkan Sahrul Ramadhan Atas Dugaan Tindak Penggelapan Barang
Nourliya, Kepala Kasir Gajah Mada Dept Store Gelapkan Uang Perusahaan Rp 1,25 Milyar
Ontslag Van Rechtsvervolging, Terdakwa Kasus Penggelapan Divonis Bebas
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
KPK Tetapkan Menpora Imam Nahrawi dan Asistennya sebagai Tersangka
Ridwan Hisjam: Golkar Perlu Reformasi Jilid II
Badiklat Kejaksaan Gembleng Ratusan CPNS Menuju SDM Unggul
Korupsi Berkomplot Anggota DPRD Kaltim, KPADK Minta Jaksa Agung Periksa Kembali 6 Tersangka
Legislator Anggap Karhutla Sebagai Bentuk Kegagalan Pemerintah
Tolak Bantuan DKI Jakarta Atasi Karhutla, Warga Riau Sebut Pemprov Riau Sombong
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Polda Metro Jaya Bekuk Pengedar Narkoba Jaringan Malaysia-Batam-Jakarta
Willem Wandik: Usai Pulkam, Mahasiswa Harus Kembali Kuliah
Indonesia Darurat Asap, Presiden Segeralah Bertindak!
Jokowi Tolak Penyadapan KPK Seizin Pihak Eksternal, Padahal Memang Tak Ada di Draf Revisi UU KPK
Label Halal Dilidungi UU, MUI: Kebijakan Menteri Enggar Adalah Kemunduran Peradaban
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]