Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Pembunuhan
Ditolak, Banding Bankir Inggris Pembunuh 2 Perempuan Indonesia di Hong Kong
2018-02-10 05:30:27

Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih dibunuh setelah terlebih dahulu disiksa.(Foto: Istimewa)
HONG KONG, Berita HUKUM - Pengadilan Banding Hong Kong memutuskan untuk menolak permohonan banding yang diajukan oleh tim pembela mantan bankir Inggris Rurik Jutting terpidana pembunuhan dua perempuan Indonesia.

Pembacaan keputusan disampaikan hakim banding Hong Kong, Jumat (9/2), dan dengan demikian Jutting tetap harus menjalani dua vonis hukuman penjara seumur hidup.

Pembunuhan itu menggegerkan Hong Kong dan Indonesia serta Inggris: ia melakukannya dengan darah dingin, menyiksanya terlebih dahulu, dan memotong-motong tubuh para korban, dan direkam dengan video.

Rurik Jutting divonis dua hukuman penjara seumur hidup pada 2016 setelah dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih, dua perempuan Indonesia mantan pekerja migran di Hong Kong.

Usai sidang, Rurik Jutting langsung dikirim ke penjara berpengawalan ketat di kawasan Tai Lam.

Namun pada Desember 2017, Tim Pembela Jutting berusaha mengajukan upaya hukum lain dengan mengajukan banding ke Pengadilan Banding Hong Kong.

"Kami ingin mengajukan hal ini karena kami yakin bahwa hakim saat itu mengambil keputusan di bawah pengaruh bias yang kuat," kata Tim Pembela di hadapan 3 Hakim Banding, seperti yang dikutip wartawan Indonesia di Hong Kong, Valentina Djaslim.

Bankir Inggris menyiapkan pembunuhan WNI di Hong Kong dengan riangHak atas fotoAFP
Image captionRurik Jutting digambarkan menyiapkan pembunuhan kedua warga Indonesia itu 'dengan riang.'

Tim Pembela berargumen bahwa Hakim Michael Stuart-Moore yang memimpin sidang, menjatuhkan vonis tersebut karena pengaruh ramainya pemberitaan kasus pembunuhan yang mengerikan itu di berbagai media.

Selain itu, Tim Pembela juga berargumen bahwa bias ini membuat para juri dan Hakim Moore salah mengartikan pendapat beberapa pakar psikologi dan toksilogi yang dihadirkan di sidang untuk memberikan kesaksian tentang kondisi fisik dan kejiwaan Jutting saat melakukan pembunuhan.

Tim Pembela saat itu meminta agar Pengadilan Tinggi Hong Kong mengizinkan diadakannya sidang ulang.

Setelah beberapa lama, Jumat ini tiga hakim menyampaikan putusan penolakan atas banding itu.

Dalam sidang tahun 2016, Pengadilan Tinggi Hong Kong yang dipimpin Hakim Michael Stuart-Moore menyatakan Inggris Rurik Jutting bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap dua perempuan Indonesia setelah serangkaian persidangan yang mencekam.

Kekejaman tak terperi

Rurik Jutting yang tampil datar tanpa ekspresi, sebelumnya menyangkal pembunuhan berencana, dan hanya mengaku bersalah melakukan pembunuhan tidak berencana.

Hakim Michael Moore saat menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Rurik Jutting mengatakan bahwa dia menolak permintaan maaf Jutting:

"Mempertimbangkan kondisi kepribadian, sejarah keluarga, pendidikan, apalagi terdakwa juga tidak menunjukkan penyesalan apapun, maka hukuman yang jelas untuk pembunuhan berencana, Anda mendapat masing-masing hukuman seumur hidup untuk setiap dua pembunuhan berencana itu," kata Hakim Moore saat memvbacaan keputusan itu.

Sumarti Ningsih tinggal gambar dan kenangan bagi ayah dan ibunya -Kaliman dan Suratmi, dan anaknya, Mohammad Hafiz Arnovan.Hak atas fotoLILIEK DARMAWAN / BBC INDONESIA
Image captionSumarti Ningsih tinggal gambar dan kenangan bagi ayah dan ibunya -Kaliman dan Suratmi, dan anaknya, Muhammad Hafiz Arnovan.

Hakim Moore menyatakan bahwa Jutting berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran bebas terutama bagi perempuan dan anak-anak perempuan.

Ia mendasarkan hal itu pada bukti-bukti pendadilan serta pendapat ahli yang menyimpulkan bahwa Jutting memiliki kepribadian narsis, penyuka seks sadis, dan juga penyalah-guna alkohol serta narkoba.

Hakim Moore juga setuju dengan pendapat para pakar kejiwaan bahwa rekaman-rekaman video yang dibuat Jutting sebelum, saat, dan sesudah membunuh, serta interogasinya di polisi Hong Kong, tidaklah menunjukkan tanda penyesalan namun lebih berupa cara membanggakan penyiksaan dan pembunuhan dia lakukan.

"Ini kasus langka, yang sangat mungkin diulangi, sehingga kemungkinan memberikan pengurangan hukuman di masa depan, sangatlah tidak mungkin," kata Hakim Moore.

Sementara Jutting semula tertunduk saat mendengar vonisnya itu, kemudian bangkit sambil menghembuskan nafas dan mengangkat bahu seakan tanda menyerah kepada petugas penjara Lo Wu yang langung menggiringnya. Tak lama terdengar denting suara rantai yang biasa dikenakan petugas ke tangan dan kaki narapidana.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Pembunuhan
Penyanyi Rap Gay, Kevin Fret, Ditembak Mati di Puerto Rico
Chiko Terbukti Membunuh di THM, Hakim Vonis 15 Tahun Penjara
Chatingan Facebook Membawa Maut, Suami Bunuh Mantan Pacar Istrinya di Samarinda
Dua Pelaku Pembunuhan Pemandu Karoke Tiba di Polres Metro Jakarta Selatan
Polisi Melakukan 37 Adegan Rekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga di TKP Pondok Melati Bekasi
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Pengusaha Asing Kabur dan Ribuan Pekerja Tidak Dibayar Upahnya, Dimana Tanggung Jawab Pemerintah?
Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok Sudah Keluar Bebas dari Rutan Mako Brimob
Kapolri Memimpin Upacara Sertijab Sejumlah Pati Polri dan 5 Kapolda
Perlu Terobosan Penanganan Dampak Bencana
Pengusaha di Begal dan Dibacok Setelah Keluar dari Bank, Uang Rp 600 Juta Dibawa Kabur
Cina Mencatat Laju Ekonomi Paling Lambat, Indonesia 'Perlu Waspada'
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kapolri Memimpin Upacara Sertijab Sejumlah Pati Polri dan 5 Kapolda
Said Didu: Sejak Awal Esemka Cuma Mobil Bohongan!
Abu Bakar Ba'asyir Tidak Bebas, BPN Prabowo-Sandi: Siapa Yang Sebar Hoax Jokowi Atau Yusril?
Update Banjir Sulawesi Selatan, BNPB Mencatat 8 Orang Meninggal, 4 Orang Hilang
Sandi Effect, Pembeda Pilpres 2019
Netralitas TNI dan Polri pada Pemilu Tentukan Kualitas Demokrasi
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]