Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Muhammadiyah
Di Hadapan Puluhan Pemuka Agama Dunia, Haedar Sampaikan Tantangan dan Peran Agama di Era Globalisasi
2018-10-11 08:28:06

KAZAKHSZTAN, Berita HUKUM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir bersama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, dan Ketua Umum PP 'Aisyiyah menghadiri VI Congress of the Leaders of World & Traditional Religions yang diselenggarakan di Kazakhsztan pada tanggal 10 hingga 11 Oktober 2018.

Kegiatan ini dihadiri 82 negara perwakilan, yang terdiri dari pemimpin organisasi agama Islam, Kristen, Hindu, serta perwakilan organisasi internasional, seperti Aliansi Peradaban PBB, OSCE, UNESCO.

Pertemuan ini membahas peran para pemimpin agama dalam menjaga dunia yang aman. Serta melibatkan pemangku agama dalam membangun kepercayaan dan saling menghormati, memerangi ekstremisme agama dan menciptakan dunia yang aman.

Dalam kesempatan itu, Haedar menyampaikan materi terkait Religion and Globalization:Challenges and Responses.

Haedar menyampaikan bahwa pada dasarnya agama tidak selalu menentang globalisasi. Islam khususnya, sejak awal berkembangnya telah mensyiarkan dari dunia tanpa batas.

"Islam secara konsisten menyerukan pesan universal yang tidak terbatas suku tertentu dan etnis, geografi dan daerah. Islam telah menyerukan persaudaraan universal dan kerja sama antara orang-orang dari elemen penting dunia," tutur Haedar, Rabu (10/10).

Selain memberikan dampak positif, Haedar juga mengatakan bahwa globalisasi juga dapat memberikan dampak yang negatif. Dan dalam hal ini peran agama Islam sangat dibutuhkan dalam memerangi dampak negatif globalisasi, seperti yang tertuang dalam surah al-Maidah ayat 2 dan surah al-A'raf ayat 56.

"Dalam hal ini Islam, harus memposisikan diri dalam proses yang tak terelakkan globalisasi. Agama harus tetap sebagai sumber dorongan untuk globalisasi yang akan membawa kebaikan bersama, tapi pada saat yang sama, harus berfungsi sebagai pengingat dan alarm bagi umat manusia untuk tidak terlibat dalam perbuatan yang merusak,"jelas Haedar.

Haedar juga menuturkan bahwa pengaruh globalisasi tidak hanya berada di tangan para ulama atau pemimpin agama dalam arti konvensional, tetapi juga menjadi kewajiban atas semua umat manusia untuk selalu waspada bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena, yang terkadang memiliki sisi yang baik maupun buruk, dan karena itu agama tidak bisa berperan sendiri.

Diakhir Haedar juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi Islam yang besar terus konsisten menyerukan untuk pengembangan spiritual yang berpengaruh terhadap globalisasi.

"Muhammadiyah mendesak anggotanya, pada khususnya, dan muslim di seluruh dunia pada umumnya, untuk selalu melakukan ijtihad menghadirkan Islam yang berkemajuan, dan sesuai dengan kebutuhan modernitas saat ini, serta mencegah bencana efek samping dari globalisasi yang terjadi," pungkas Haedar.(adam/muhammadiyah/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Muhammadiyah
Muhammadiyah Kecam Aksi Unjuk Rasa 21-22 Mei yang Berujung Rusuh
Kader Muhammadiyah Harus Memiliki Etos Kerja yang Tinggi
Pasca Pemilu, Muhammadiyah Memandang Perlunya Rekonsiliasi Nasional untuk Tegaknya Kedaulatan dan Persatuan Indonesia
Haedar Sampaikan Rahasia Muhammadiyah Dapat Bertahan di Usia Satu Abad Lebih
Muhammadiyah Membangkitkan Kembali Kesadaran Beragama yang Mencerahkan
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Pengamat: Rusuh 22 Mei Diharapkan Jadi Momen Perubahan Budaya Politik
Ini Tanggapan Presidium Alumni 212 Soal People Power dan Rusuh di Bawaslu
Pemprov DKI Jakarta Gelar Lomba Foto dan Vlog
AJI: Kekerasan terhadap 20 Jurnalis Saat Aksi 22 Mei Harus Diusut
Sandiaga Uno: Sulit Mengakui Pemilu 2019 Ini Jurdil
Brexit: PM Inggris Theresa May akan Mundur karena Tak Mampu Bawa Inggris Keluar dari Uni Eropa
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Sandiaga Uno: Sulit Mengakui Pemilu 2019 Ini Jurdil
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Pemerhati Hukum Siber: Pembatasan Akses Media Sosial Adalah Kebijakan Yang Aneh
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Potret Pemilu 2019, LKPI: Ada 72,8 Persen Mengatakan Ada Banyak Kecurangan
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]