Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Prancis
Bagaimana Macron Hanya Butuh 1 Tahun untuk Jadi Presiden Prancis?
2017-05-09 00:06:08

Di usia yang baru 39 tahun, Emmanuel Macron akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Prancis.(Foto: Istimewa)
PRANCIS, Berita HUKUM - Emmanuel Macron memenangkan pemilihan Presiden Prancis, hari Minggu (7/5), setelah di putaran kedua pemungutan suara menyingkirkan Marine Le Pen.

Proyeksi penghitungan suara memperlihatkan Macron, politisi tengah pro-Eropa, meraih sekitar 65% suara, sementara calon dari kanan jauh, Le Pen, meraih kurang lebih 35% suara.

Dalam pidato kemenangan, Macron mengatakan halaman baru tengah dimulai dalam sejarah Prancis.

"Saya ingin ini menjadi halaman tentang harapan dan rasa saling percaya," katanya.

Pada usia 39 tahun, Macron akan menjadi presiden Prancis termuda dalam sejarah.

Yang juga menarik dalam pilpres kali ini adalah untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, presiden terpilih bukan berasal dari dua partai utama, Sosialis dan Republik yang berhaluan kanan tengah.

Pendukung MacronHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMacron mundur dari Partai Sosialis dan mendirikan gerakan rakyat, En Marche!.

Macron sendiri sebenarnya bukan wajah yang sama sekali baru di panggung politik Prancis.

Ia pernah menjadi menteri ekonomi Presiden Francois Hollande, politisi Partai Sosialis. Fakta ini, menurut pengamat politik Francois Raillon, bermakna bahwa Macron juga adalah bagian dari kelompok mapan
establishment.

Pada April 2016 ia mendirikan En Marche!, gerakan berhaluan tengah yang ia gunakan sebagai kendaraan politik di pemilihan presiden.

Wartawan BBC, Becky Branford, mengatakan bisa saja Macron maju di pilpres dengan tiket dari Partai Sosialis, namun ia sadar betul bahwa dengan popularitas partai yang menurun, ia perlu kendaraan lain yang segar, yang bisa dirasakan secara langsung oleh rakyat.

Di Eropa, ini bukan gejala baru. Ada gerakan serupa yang telah dibentuk sebelumnya di Italia dan Spanyol. Dan beberapa bulan setelah mendirikan En Marche!, Macron menyatakan mundur dari Partai Sosialis.

Mirip 'gerakan Obama'

Gerakan ini pada saat yang sama memungkinan Macron untuk memposisikan diri sebagai tokoh yang dekat dengan akar rumput, mirip dengan apa yang dilakukan Barack Obama ketika terjun di pilpres Amerika Serikat pada 2008, kata wartawan lepas di Paris, Emily Schultheis.

Model pendekatan ini antara lain memanfaatkan kerja relawan di lapangan.

Marine Le PenHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionProyeksi suara memperlihatkan, calon kanan jauh Marine Le Pen hanya mendapatkan sekitar 35% suara.

Di sisi lain, keberhasilannya menang di pilpres, kata Raillon, tak lepas dari apa yang ia sebut sebagai 'keinginan sebagian besar rakyat untuk membersihkan ruang politik dari tokoh-tokoh lama, yang tua, dan tradisional'.

"Macron bukan 100% orang baru, tapi di usia yang masih sangat muda, 39 tahun, ia dianggap sebagai tokoh yang menyegarkan dibandingkan semua politisi lain (yang ikut serta dalam pemilihan presiden)," kata Raillon kepada BBC Indonesia.

Di kalangan pemilih ia dianggap sebagai figur yang paling bisa diterima, sementara yang lain ditolak termasuk Marine Le Pen, anak perempuan politisi kanan jauh, Jean-Marie Le Pen.

Raillon mengatakan di pundak Macron ditumpukan harapan besar agar di Prancis dilakukan perbaikan di berbagai bidang, perbedaan di kalangan rakyat disatukan lagi dan ada dinamika baru di bidang ekonomi.

Kemenangan Macron disambut hangat, tak hanya di dalam tapi juga di luar negeri.

Juru bicara kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa kemenangan Macron adalah juga kemenangan bari Eropa yang kuat dan bersatu.

Kepala Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, menyampaikan pernyataan senada.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengucapkan selamat dan siap bekerja sama di berbagai bidang.

MacronHak atas fotoREUTERS
Image captionMacron mengusung platform berhaluan tengah yang probisnis dan pro-Uni Eropa.

Ucapan selamat juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengirim ucapan melaui Twitter.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Prancis
Prancis Tarik Duta Besar dari Italia, Mengapa Perseteruan 2 Negara Tetangga Ini Membesar?
Prancis Rusuh Lagi: 125.000 Demonstran Turun, Toko Dijarah, 1.000 Ditahan
Kerusuhan Prancis: Pemerintah Tunda Kenaikan Harga BBM Diesel
Kedutaan Prancis di Burkina Faso di Serbu, 8 Petugas Tewas dan 80 Orang Luka
Bagaimana Macron Hanya Butuh 1 Tahun untuk Jadi Presiden Prancis?
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
TNI Harus Utamakan Netralitas
Tanggulangi Tingginya Pengangguran Kaum Muda, Sandi Perkenalkan Rumah Siap Kerja
Prabowo: Saya Bisa Seperti Ini Karena Didikan Para Senior
Banjir Bandang Dahsyat di Sentani Jayapura, 70 Orang Meninggal
DPR Usulkan Isu Uighur di Parlemen OKI
Tunjukkan Solidaritas, Lampu JPO GBK Visualkan Warna Bendera Selandia Baru
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Tunjukkan Solidaritas, Lampu JPO GBK Visualkan Warna Bendera Selandia Baru
KPK Akhinya Tetapkan Ketum PPP Romahurmuziy Tersangka
Prabowo: Tugas sebagai Pemimpin Tidak Sulit, Asalkan Gunakan Akal Sehatmu dan Cintai Rakyatmu
Polisi Mengungkap Jaringan Narkoba Shabu Riau-Jakarta-Bandung dengan 6 Tersangka
Cawapres Sandiaga Uno Hadiri Haul Guru Sekumpul
Tim Opsnal Unit II Resmob PMJ Menangkap 3 Begal Kelompok Lampung
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]