Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Israel
Bagaimana Kematian Shimon Peres Ditanggapi di Palestina?
2016-09-29 11:18:58

Shimon Peres adalah salah satu arsitek perjanjian damai Oslo 1993.(Foto: Istimewa)
PALESTINA, Berita HUKUM - Kematian mantan pemimpin Israel, Shimon Peres, pada usia 93 tahun mendapat reaksi beragam dari Palestina. Ada yang melihatnya sebagai sosok yang memiliki peran besar dalam mengupayakan terwujudnya perdamaian di negara-negara Arab, tapi ada juga yang menganggapnya bertanggung jawab atas 'pembantaian yang menjadikan rakyat Palestina sebagai korban'.

Secara umum, suasana di Palestina tidak banyak berbeda dengan adanya kematian Peres ini.

"Biasa saja, tidak ada yang luar biasa," kata Abdillah Onim, wartawan kantor berita di Gaza, Suara Palestina.

Media di Palestina yang dipantau Onim pada hari Rabu (28/9) tidak memberikan porsi istimewa atas meninggalnya Peres.

Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, sudah mengirim surat yang berisi ucapan duka.

"Peres adalah mitra untuk mewujudkan perdamaian bersama mendiang Yasser Arafat ... mengambil upaya-upaya intensif untuk terus menciptakan perdamaian berjangka panjang sejak perjanjian Oslo sampai akhir hayatnya," demikian pernyataan yang dikeluarkan kantor kepresidenan Palestina.

'Pembantaian rakyat Palestina'

Onim menjelaskan secara umum faksi Fatah -kelompok yang dipimpin Presiden Abbas- bersuara netral atau positif terhadap Peres.

Sementara faksi Hamas menganggap Peres tidak berbeda dengan para politikus lain dan bahkan dianggap bertanggung jawab atas 'sejumlah insiden pembantaian terhadap rakyat Palestina'.

"Tidak ada beda antara Shimon Peres dan Ariel Sharon. Bagi anggota Hamas kematian Peres atau Sharon tidak ada untungnya bagi Timur Tengah atau Palestina," kata Onim.

Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas -faksi Palestina yang menguasai Gaza- mengatakan bahwa rakyat Palestina bergembira dengan kematian Peres, yang ia sebut 'terlibat dalam banyak kejahatan dan berperan menumpahkan darah di Palestina'.

Anggota parlemen Palestina, Mustafa Barghouti, sementara itu mengatakan apa yang dilakukan Peres adalah 'menciptakan ilusi perdamaian'.

Mantan presiden dan perdana menteri Israel, Shimon Peres, meninggal dunia pada Rabu (28/9) dalam usia 93 tahun di rumah sakit di dekat Tel Aviv, setelah terserang stroke dua pekan lalu.

Peres dua kali menjabat sebagai perdana menteri Israel dan sekali menjabat sebagai presiden.

Dia adalah salah satu tokoh terakhir dari generasi politisi Israel yang terlibat dalam kelahiran bangsa baru ini pada tahun 1948.

Beberapa waktu terakhir, Peres mengalami berbagai gangguan kesehatan.

Dua pekan lalu Peres dilarikan ke rumah sakit setelah menderita serangan stroke. Januari lalu, Peres dua kali dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan jantung.
Pada perawatan pertama tim dokter melakukan operasi untuk memperlebar pembuluh darah Peres.

Beberapa hari kemudian pemenang Hadiah Nobel Perdamaian ini kembali dibawa ke rumah sakit karena detak jantungnya tak beraturan.

Peres adalah arsitek dari program nuklir rahasia Israel.

Untuk perannya negosiasi perjanjian perdamaian dengan Palestina yang berbuah Perjanjian Oslo 1993, Peres meraih hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1994 bersama mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat dan PM Israel Yithzak Rabin yang dibunuh ekstrimis Yahudi.

Hingga masa akhir hidupnya, Peres tetap sibuk dalam berbagai kegiatan publik, sebagian besar melalui lembaga non pemerintah Peres Center for Peace, yang mempromosikan hubungan yang lebih erat antara Israel dan Palestina.

Peres menurut rencana akan dimakamkan secara kenegaraan di Jerusalem, hari Jumat (30/9), tapi belum jelas apakah Presiden Abbas akan hadir di pemakaman ini.(BBC/bh/sya)

Share : Facebook |

 
Berita Terkait Israel
PM Israel Benjamin Netanyahu dan Istrinya Terbelit Kasus Korupsi
Penembakan di Kedutaan Israel, 2 Orang Tewas
DPR RI Ajak Masyarakat Bangun Gerakan Anti Penjajahan Israel
Bagaimana Kematian Shimon Peres Ditanggapi di Palestina?
Stroke, Eks Presiden Israel Shimon Peres Dibawa ke Rumah Sakit
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Jelang Pilkada Serentak 2018, Polda Jatim Gelar Sispam
Mintarsih A. Latief Laporkan Majelis Hakim PN Jaksel ke Bawas MA
Budi Waseso Diminta Turun Gunung ke Pilkada Jateng, Relawan Pendukung Terbentuk
Komisi IX DPR Dalami Problem Defisit BPJS Kesehatan
Pemerintah Diingatkan untuk Tak Main-main dengan KTP-El
Panglima TNI: Sampai Kapanpun TNI Tidak Pernah Melupakan Para Pejuang dan Senior
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Polri dan Bea Cukai Membongkar Penyelundupan 600.000 Butir Pil Ekstasi
Setelah 37 Tahun Berkuasa, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe Mundur
Dipindahkan dari RSCM ke Rutan KPK, Setnov Pakai Rompi Orange dan Kursi Roda
Gubernur DKI Jakarta Gelar Apel Operasi Siaga Ibukota
Kasau: Indonesia Jaya Expo 2017 Kenalkan TNI AU Lebih Dekat dengan Masyarakat
Forum Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia Tolak Reklamasi Selamanya
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]