Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kejari Samarinda
Alasan Tak Temukan Kerugian Negara Kasus Korupsi PDPAU, Kajari Akan Hentikan Penyidikan
Friday 17 May 2013 03:41:20

Kepala Kejaksaan Negeri Samarinda Arif, SH (Foto: BeritaHUKUM.com/gaj)
SAMARINDA, Berita HUKUM - Penyidikan kasus korupsi pada Perusahan Daerah Pergudangan dan Aneka Usaha (PDPAU) Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) yang di duga merugikan keuangan negara milyaran rupiah yang sejak di lakukan penyelidikan Oktober tahun 2011, bakal di hentikan penyidikan dengan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) oleh Kepala Kejaksaan Negeri Samarinda Arip, SH, dengan alasan tidak menemukan kerugian negara.

Rencana Kajari Arip, akan mengeluarkan SP3 terhadan Perusda PAU menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat Kaltim yang sejak awal memantau akan kinerja Kejaksaan tersebut. Pasalnya sejak Penyelidikan awal yang dilakukan oleh Kajari Samarinda terdahulu Sugeng Purnomo,SH telah menaikan ke tingkat Penyidikan dan sebelum Kajari Sugeng pindah ke Kejati Sulawesi Selatan (Sulsel) kepada wartawan bahwa telah mengantongi calon tersangka dan pada waktunya akan di ekspose ke publik.

Setelah hampir 30 bulan kejaksaan melakukan penyelidikan dan penyidikan, tiba-tiba Kajari Samarinda Arip, mengisyaratkan akan mengeluarkan SP3 dengan alasan belum menemukan kerugian keuangan negara dalam kasus tersebut, hal tersebut di sampaikan Kajari Arip kepada Wartawan di kantornya Rabu (15/5).

"Dalam penyelidikan belum di temukan kerugian keuangan negara dalam kasuss tersebut jadi mungkin di hentikan mungkin juga tidak" sebut Arif.

Kajari Arip,SH juga menegaskan kasus dugaan korupsi bisa dibawah ke Pengadilan Tipikor selama ada kerugian keuangan negara, jika kasus ini sudah didalami dan tidak ditemukan kerugian keuangan negara maka dimungkinkan untuk menerbitkan Surat SP3, tegas Arip.

"kami tidak bisa menetapkan tersangka jika tidak ada kerugian keuangan negara dan kalau di paksakan membawah kasus ini ke pengadilan, dakwaan Jaksa pasti tidak terbukti", tegas Arip.

Arip juga menambahkan bahwa proses penyelidikan kasus ini memang terbilang cepat, hanya sebulan telah dinaikkan ke tahap penyidikan. ada dua permasalahan yang ditemukan dalam kasus Perusda PAU, yang pertama menurut Kajari, menyangkut pengalihan aset milik Pemprop Kaltim yang di pinjamkan ke Pemkot Samarinda. Permasalahan terjadi karena karena Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari Pemprof ditengarai dalikan oleh pihak lain menjadi Hak Guna Bangunan (HGB). Sedangkan permasalahan yang kedua yang menyangkut pengelolaan keuangan PDPAU pada kurun waktu tahun 1995 - 2009 di tengarai terdapat penyimpangan.

Munculnya rencana dikeluarkannya Surat Perintah Penyidikan (SP3) oleh Kepala Kejaksaan Negeri Samarinda terhadap Perusda PAU mendapat sorotan tajam dari beberapa pihak, diantaranya Prof. Sarosa Homongpranoto, selaku Pengamat Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Menurut Sarosa, pada BeritaHUKUM.com Kamis (16/5) bahwa, persoalan penghentian perkara dalam penangan kasus sudah lumrah terjadi, yang menyebabkan hanya penyebab kasusnya di hentikan. Apakah penyidik tidak menemukan bukti baru atau ada kendala lain, tanya Sarosa.

Sarosa juga mengakuinya bahwa, adanya penghentian kasus ini tentu adanya pro dan kontra dari masyarakat, ada yang menyayangkan dan ada pula yang menghargai yang mungkin telah melihat kinerja dari kejaksaan, yang lalu mendengar bahwa adanya calon tersangka yang akan segera di tetapkan oleh kejaksaan namun namun kemudian akan dihentikan sehingga wajar ada pertanyaan pada kendalanya, dan jaksa mbisa meyakinkan masyarakat bahwa dalam penyidikan tidak ada kerugian keuangan negara, tegas Prof Sarosa.(bhc/gaj)

Share : Facebook |

 
Berita Terkait Kejari Samarinda
Untuk Meringankan Hukuman, Kedua Terdakwa Membuang Bayi Menikah di Musholla Kejari Samarinda
Janji Oknum Jaksa Meleset, istri Terdakwa akan Lapor Kajati
Kejari Samarinda Didemo: Bongkar Dugaan Skandal di Fekon Unmul
Kajari, I Putu Gede Suardhan: Penegakan Hukum Harus Baik dan Profesional
Saat Dikonfirmasi, Kasi Pidum Kejari Samarinda Marah dan Usir Wartawan
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Valentino Rossi Juara MotoGP Assen
Hacker Berulah, Microsoft Kebobolan Data Rahasia Besar
Haedar Nashir: Mengajak Orang untuk Menyelamatkan Bangsa Itu Musuhnya Berat
Nelly Juliana: Kepada Yang Terhormat : Bapak Presiden Jokowi
Inilah 13 Tuntutan dan Ultimatum Arab Saudi pada Qatar
Lebih 100 Orang Hilang Akibat Longsor Menghancurkan 40 Rumah di Sichuan, China
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Tempat Ahok Bukan di Mako Brimob, Namanya Juga Lapas Mana ada yang Kondusif dan Nyaman
Polisi Menangkap 7 Tersangka Kasus Perampok Modus Gembos Ban di SPBU Daan Mogot
Kronologi OTT Kasus Suap Gubernur Bengkulu dan Istri, KPK Sita Rp 1 M
Para Pemimpin Agama dan Adat Dunia Terjun 'Melindungi Lingkungan'
FMIG Kecam Tindakan Oknum Brimob Lakukan Kekerasan terhadap Wartawan Antara
Yusril Menyambut Baik Tawaran Rizieq Membentuk Forum Rekonsiliasi dengan Pemerintah
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]