Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Cyber Crime    
 
Cyber Crime
Ada 148 WNA Pelaku Kejahatan Siber Bakal Dideportasi ke Cina dan Taiwan
2017-08-03 09:53:44

Tampak para penjahat Cyber Crime dari WNA China dan Taiwan yang berhasil ditangkap.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sebanyak 148 warga negara asing (WNA) yang terlibat kejahatan siber internasional akan segera dideportasi ke negara asalnya, China dan Taiwan. Mereka akan diproses berdasarkan hukum setempat.

Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F Kurniawan menyampaikan, ratusan tersangka itu akan diserahkan ke kepolisian Cina dan Taiwan yang menunggu di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.

"Tapi, kan nanti di sana diproses hukumnya. Makanya kita serahkan biar di sana yang menyelidiki," ucap Hendy di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (3/8/2017)

Diketahui, peran para tersangka dalam kejahatan siber in tersebut beragam. Ada ada yang berperan sebagai supir, pemasang jaringan internet, hingga penerjemah. Mereka ditangkap secara serentak di tiga kota, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Sebanyak 29 warga negara Cina diciduk di Jalan Sekolah Duta Pondok Indah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Sabtu 29 Juli 2017 kemarin. Polisi gabungan juga menggerebek rumah sindikat kejahatan siber itu di Perumahan Puri Bendesa, Benoa Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Sementara penggerebekan di Bali, polisi menangkap 32 orang terdiri dari 17 warga Cina dan 10 warga Taiwan dan 5 WNI. WNA yang ditangkap tersebut terdiri atas sembilan wanita dan 18 pria.

Sedangkan di Surabaya sebanyak 92 yang meliputi tiga lokasi yakni Jalan Mutiara Graha Family Blok N-1 Bukit Darmo Golf Surabaya, Jalan Graha Family Timur 1 Blok E-68 Bukit Darmo Golf dan Jalan Graha Family Timur 1 Blok E-58 Bukit Darmo Golf. Jumlah total keseluruhan yang diamankan polisi sebanyak 153 orang yakni 148 warga asing dan 5 WNI.

Sementara, Polri masih mengejar pihak yang diduga memegang paspor milik seratusan warga negara China dan Taiwan yang terlibat dalam kasus kejahatan siber.

"Banyak yang tidak punya identitas karena (paspor) dipegang oleh seseorang. Hanya 20 persen saja yang punya paspor. Kami masih dalami kasus ini. Mudah-mudahan sponsornya itu bisa kami tangkap," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto, di Mabes Polri, Jakarta, Senin ( 31/7) lalu.

Para pelaku yang memiliki paspor, kata dia, masuk ke Indonesia dengan menggunakan visa turis ataupun visa kerja.

"Ada yang izinnya turis, kerja atau mengunjungi keluarga," katanya.

Rikwanto mengatakan, para pelaku yang berasal dari China dan Taiwan ini sengaja datang ke Indonesia dan menyewa sejumlah tempat di berbagai kota untuk melakukan penipuan siber.

Polisi pun masih menyelidiki proses mereka masuk ke Indonesia untuk memastikan mereka masuk melalui jalur resmi atau ilegal.

Sementara para korban sindikat ini adalah para warga negara China yang berada di China.

"Korbannya orang-orang yang bermasalah dengan hukum. Kemudian pelaku menghubungi korban via telepon dan mengaku sebagai polisi atau jaksa dan mencoba mencarikan solusi, tentunya dengan imbalan," katanya.

Sedangkan hingga saat ini polisi tidak menemukan adanya korban warga negara Indonesia.

"Tidak ada korban WNI," katanya.

Polisi menduga jumlah kerugian yang diderita para korban akibat aksi penipuan dan pemerasan yang dilakukan sindikat kejahatan siber yang mulai beroperasi sejak akhir tahun 2016 ini mencapai Rp6 triliun.

Kasus ini terungkap setelah sejumlah korban melapor ke Kepolisian China. Polisi China kemudian menelusuri pelaku yang ternyata berada di Indonesia dan meminta bantuan kepada Polri untuk mencari pelaku.(erh/okezone/Antara/bh/sya)


Share : Facebook |

 
Berita Terkait Cyber Crime
Tim Rembuk Nasional dan Kemenkominfo Meninjau Tim Cyber Crime Ditreskrimsus
Ada 4 Cara Minimalkan Risiko Serangan Siber
Ada 148 WNA Pelaku Kejahatan Siber Bakal Dideportasi ke Cina dan Taiwan
Tiga Pelaku WNA Pembuat Surat Email Hoax Jokowiriana@gmail.com di Tangkap
Ini Cara Polisi Lacak Teroris di Dunia Maya
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Yocie Gusman Plt Direktur Utama BJB Syariah Ditetapkan Tersangka
Panglima TNI: Keberhasilan Tugas Milik Anak Buah, Kegagalan Tanggung Jawab Komandan
BPKH Diharapkan Investasikan Dana Haji untuk Pesawat dan Hotel Jemaah
Kebijakan Bebas Visa Tidak Datangkan Wisatawan Secara Signifikan
Aparat Hukum Diminta Selidiki Dugaan Money Laundering
Polda Metro Jaya dan APPI Menggelar Sarasehan dan Dialog UU No 42/1999 Jaminan Fidusia
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Dipindahkan dari RSCM ke Rutan KPK, Setnov Pakai Rompi Orange dan Kursi Roda
Gubernur DKI Jakarta Gelar Apel Operasi Siaga Ibukota
Kasau: Indonesia Jaya Expo 2017 Kenalkan TNI AU Lebih Dekat dengan Masyarakat
Forum Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia Tolak Reklamasi Selamanya
Akhirnya PBB - PKPI - Partai Idaman Lolos Pendaftaran Pemilu 2019
KPK Tidak Temukan Setya Novanto, Tim KPK Terus Cari Setya Novanto
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]