Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Pencari Keadilan
2 Hari Sudah, Nekat Panjat Tower Sutet Tuntut Keadilan Kasus Lingkungan di Bajanawa NTT
2018-10-06 21:44:10

Tampak Agustinus yang diatas tower sutet untuk menuntut keadilan.(Foto: BH /mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sudah lebih dua (2) hari, sejak Kamis (4/10) lalu seorang pria bernama Agustinus memanjat dan berada di atas tower listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) sembari mengibarkan Bendera Merah Putih dan 2 spanduk berisi sejumlah tuntutan, yang dibawa pemanjat tower sutet tersebut di ketinggian sekitar 90 meter yang berlokasi dipinggir Jl. Arief Rachman Hakim, dekat Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat pada, Sabtu (6/10).

Agustinus si pemanjat tower sutet tersebut tampak mengibarkan spanduk, yang salah satunya bertuliskan "Kapolri Tangkap Perusak Lingkungan Kota Bajawa NTT. Pembunuh Menteng",

Dari informasi yang dihimpun pewarta, spanduk tersebut adalah guna permintaannya mencari keadilan yang ditujukan kepada Kapolri dan Panglima TN untuk tuntutannya karena terkait kasus kematian keponakannya bernama Davis Natalis di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Agus juga mengibarkan spanduk bertuliskan 'Presiden Biadap dan Jangan Pilih Presiden Lagi'. pada spanduk tersebut yang dipasang di atas tower listrik sutet tersebut.

Tak pelak, aksi nekat Agustinus yang berada diatas tower listrik sutet senejak pukul 08.00 WIB pada, Kamis (4/10) itu tampak menyedot perhatian para pengemudi lalu lintas yang lalu lalang di jalan pusat Ibukota, Jakarta tersebut, baik yang mengarah ke pusat perbelanjaan pasar tradisional 'pasar Senen, maupun ke pusat pemerintahan, disekitar tugu Tani, maupun kantor kedutaan besar AS serta maupun ke Monumen Nasional (Monas).

Terlihat, ribuan pengendara motor melintas dari arah Kramat Kwitang pasar Senen menuju arah Tugu Tani memarkirkan kendaraan ditepi jalan hanya sekadar menyaksikan sesaat langsung pria yang memanjat tower itu, soalnya sesekali dia berdiri sembari mengitari bendera merah putih di pucuk tower listrik sutet itu. Para pengendara motor mencoba mengabadikan momen itu dan menyerukan kepada pria itu agar turun dari atas tower listrik sutet trsebut karena dianggap berbahaya.

"Saya akan segera turun kalau ada ketua PBNU dan pimpinan pusat Muhammadiyah, dan juga profesor Jimly Assidiqi ataupun Mahfud MD. Selain itu juga tim kuasa hukum saya juga ada," papar Pria yang bernama Agustinus, saat beberapa pria sempat berupaya membujuknya turun pada Jumat (5/10) malam.

"Kuasa hukum saya, yaitu dari Kontras, Komnas HAM, LBH Trisakti, dari LBH Matheus S.H, Agustinus Paembesi. Karena mereka tahu apa yang saya tuntut sejauh ini, terkait pembunuhan Menteng," bebernya.

Agustinus menambahkan, "saya memohon minta tolong dalam aksi ini, mereka diusahakan datang, dan alamatnya seperti yang sudah saya sampaikan tadi," ujarnya.

"Kalau bisa Komnas HAM juga datang, karena sudah 2 minggu saya tunggu audiensi bersama Komnas HAM belum ada kepastian. Kapan mereka akan terima saya ? Kalau turun berarti gak ada audiensi lagi," tukasnya.

"Yang terutama pimpinan PBNU, Muhammadiyah, tim hukum, dan Prof Mahfud MD serta Jimly. Demi menyelesaikan persoalan bangsa ini," paparnya.

"Ini bukan kasus pribadi saya, namun kasus masyarakat yang di zolimi. Bukan kasus politik, ini kasus menimpa masyarakat kecil yang bakal miris sekali, dimana yang dilakukan investor investor (dari China)," utaranya

Lanjutnya kemukakan, "coba saja tengok dari media sosial (YouTube), sudah muncul itu peristiwa kerusakannya di Bajanawa NTT. Dimana listrik PLTU, masyarakatnya sengsara, tiap tahun gagal panen, masyarakat bisa terserang berbagai penyakit,"

"Anehnya di lokasi PLTU, ada seminari disana, kok Pastori diam saja, padahal PLTU ada di belakangnya. Apa mereka buta huruf ? kok bisa bangun PLTU di belakang seminari ? Gas beracun keluar terus setiap hari. Saya yakini tanpa Amdal," bebernya.

"Ini kejahatan luar biasa, kejahatan kemanusiaan, ada penyalahgunaan, sarat korupsi kolusi yang bisa menelan capai 1,5 Triliun rupiah. bagaimana mungkin bangun di tengah masyakarat, minimal 3 km dari perkampungan masyakarat," tukasnya.

Harapannya meminta supaya pihak KPK turut pula meninjau ulang tambang liar pasir disana."Gunung ini kok dibuat tambang pasir, ini investor asing dari China bagaimana ini. Saya ga mau daerah saya seperti di Sultra, dimana dibangun tambang tambang, malah hancur sekarang ini," imbuhnya.

Sebelumnya, aksi yang sama juga dikabarkan pernah dilakukan oleh pria bernama Agustinus tersebut disamping Jalan layang Raya Bogor, Pasar Rebo, Jakarta Timur yang sebelumnya memanjat papan Baliho setinggi 20 meter.(bh/mnd)

Share : |

 
Berita Terkait Pencari Keadilan
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Please, Jangan Bermain-main dengan Isu Ustadz Abdul Somad
Gerindra: Siklus Pembiayaan Utang dengan Berutang Harus Segera Diatasi
Catatan Pemilu Jadi Tekad Perbaikan Pemilihan 2020
Pemerintah Diminta Prioritaskan Pekerja Lokal
Sony dan Disney Berpisah, Spider Man Tak Bakal Muncul Lagi di The Avengers?
Belum Saatnya Memindahkan Ibu Kota
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Please, Jangan Bermain-main dengan Isu Ustadz Abdul Somad
Gerindra: Siklus Pembiayaan Utang dengan Berutang Harus Segera Diatasi
PP Muhammadiyah: 'Mafia' Rentenir, di Balik Belum Disahkannya RUU Perkoperasian
Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Kenapa Gak ke Beijing?
Ketua DPR Imbau Semua Pihak Tahan Diri Terkait Papua
PMJ Luncurkan Mobil SKCK Online Keliling untuk Tingkatkan Pelayanan Publik
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]